Footprint

Today, I just got my passport back, with a Schengen visa sticker in it. Yay! I was granted a multiple Schengen visa valid for 6 months from the Embassy of France in Abu Dhabi.

As in many other countries, to apply for a Schengen (French) visa in Abu Dhabi, you will need to submit your application through VFS Global. They will be the middleman between you and the embassy.

You can check whether you’ll need a visa or not to enter France and what kind of documents you’ll need to submit based on your situation by following this visa wizard. In my case, I am an Indonesian, holding a UAE residence visa, and living in the UAE under my husband sponsorship. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble

Pasca rawat inap di rumah sakit selama dua bulan kemarin, salah satu hal yang pertama-tama saya lakukan adalah ngurusin klaim asuransi.

Sebelum keluar rumah sakit, saya udah DM-an sama admin akun Twitter Cigna buat nanya-nanya syarat dan proses klaim. Surprisingly, adminnya sangat kooperatif dan responsif! *Makasih banyak, Mbak Naila*

Di Cigna, sejak tahun 2010 saya punya tiga polis asuransi. Satu asuransi untuk melindungi risiko kecelakaan dan dua asuransi kesehatan (mencakup rawat inap aja, bukan rawat jalan). Premi per bulannya masing-masing cuma seratus ribuan. Nggak terlalu membebani buat saya yang penghasilan bulanannya nggak jelas. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble

Memasuki bulan keenam di tahun 2019, terjadi sebuah peristiwa yang cukup mengguncang hidup saya dan berlangsung sampai pertengahan bulan Agustus ini. Berawal dari sakit yang kayaknya sepele: ‘cuma’ batuk-batuk, pada akhirnya saya divonis TBC paru-paru dan musti dirawat di rumah sakit selama 2 bulan lebih. Tepatnya 9 minggu.

Buat yang follow saya di Twitter dan termasuk yang penasaran thread saya ini lagi ngitung apaan, jawabannya adalah: menghitung hari-hari saya dirawat di rumah sakit :)))

Kenapa kok sampai dirawat segitu lamanya? Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble

Dirawat selama dua bulan di rumah sakit membuat saya otomatis memindahkan kehidupan ke ruang berukuran 3×4 yang saya tempati. Saya berusaha mengondisikan pikiran dengan menganggap saya sedang “kos sementara” di kamar rumah sakit. Jadi sebisa mungkin tetep ngelakuin kegiatan normal kayak kalo lagi di rumah.

Btw, karena saya ‘cuma’ TBC aja, saya nggak pake diinfus segala. Juga nggak ada pantangan makanan dan minuman apa pun. Jadi saya bebas buat bergerak dan ngapa-ngapain, selama ga keluar ruangan. Huhuhu~ Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble

Saat pertama kali didiagnosa TBC Paru (11 Juni 2019), yang pertama kali kepikiran sama saya adalah, “Di mana saya ketularan penyakit ini?”

Setelah saya runut balik, agak susah menemukan lokasi pastinya. Dari awal 2019 kemarin, saya memang lagi traveling mulu. Februari sampai akhir Maret saya ngider dengan rute UEA – Indonesia – Jepang – Hong Kong – Indonesia – UEA. Di antara rute itu, beberapa kali stay di airport cukup lama (kadang overnight) karena nunggu penerbangan berikutnya.

Saya inget banget, habis dari Jepang (kena winter) pas sampai di Hong Kong kena hujan, saya udah mulai ga enak badan. Rasanya kayak mau gejala flu gitu. Agak demam dan mulai batuk-batuk. Saya pikir wajar lah, mungkin ‘cuma’ kecapekan. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr