October 2011 archive

wisuda

sebuah perjuangan, pada akhirnya akan mencapai titik akhir; kalah atau menang

Anggap sajalah lima tahun kuliah (kurangi satu tahun cuti) adalah perjuangan, dan wisuda; proses akhir kelulusan adalah kemenangan. Ada kelegaan ketika akhirnya bisa mengatakan, “akhirnya”. Sebuah gelar, telah (dipandang) layak ditambahkan di belakang nama saya saat ini.

Bukan lulusan terbaik, nilai IPK pun tak mencapai cumlaude, tapi memang bukan itu tujuan saya kuliah. Tunggu, tujuan kuliah? Memutar ulang rekaman ingatan lima tahun lalu. Tujuan kuliah saya, apa ya?

Kalau boleh jujur, saya tak belajar banyak saat kuliah. Pendidikan saya sebelumnya adalah SMK dengan jurusan yang sama dengan jurusan kuliah saya (pada akhirnya), sehingga banyak sekali rasanya materi yang seperti diulang. Jadi, kalau diingat lagi, mungkin tujuan kuliah saya, memang hanya sesederhana mendapatkan gelar sarjana. Titik.

Bukan rahasia lagi bahwa dunia kerja pada umumnya, di negeri ini pada khususnya, seringkali masih mempertanyakan pendidikan terakhir dan gelar. Baru kemudian kemampuan dan kompetensi ada di urutan berikutnya. Meskipun, tentu saja, selalu ada pengecualian.

Beruntunglah saya termasuk satu dari orang-orang yang mendapatkan pengecualian tersebut. Bahwa saya dapat bekerja sejak jauh sebelum sarjana, dengan penghasilan yang cukup layak untuk hidup, makan dan membiayai kuliah saya sendiri. Meskipun (lagi) ternyata jenjang pendidikan masih berpengaruh pada peningkatan karir.

Padahal, tentang apakah setelah wisuda dan sarjana karir saya akan meningkat atau tidak, siapapun tak bisa menjaminnya, bukan?

Kenapa topiknya mendadak berat? Ya sudahlah, intinya saya sudah memenangkan perjuangan ini.
*tsah* *lempar topi*

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

menjadi waras

Tidak ada sesuatu yang mutlak di dunia ini. Kebenaran atau kesalahannya.

Setidaknya itu yang saya tanamkan pada diri saya sendiri.

Belakangan, saya mengamati banyak sekali seseorang yang melakukan hal-hal untuk membela sesuatu yang dianggapnya benar. Saya tidak merujuk kepada sebuah peristiwa tertentu, tapi memaparkan ini secara umum.

Fanatisme.

Untunglah (atau justru tidak untung), saya sejauh ini belum pernah mengalaminya. Terhadap sesuatu, seseorang, atau apapun. Bahkan, percayakah kalau saya bilang saya tidak punya idola?

Saya cenderung berjalan di tengah, tidak terlalu ke kanan, ataupun ke kiri. Penting itu untuk kewarasan jiwa saya.

Sementara yang saya lihat, ada saja yang mengagungkan sesuatu hal, sampai mengabaikan yang tak baik tentangnya. Segala yang berhubungan dengan hal itu, dianggap baik, dianggap benar, mengesampingkan yang buruk tentangnya.

Lebih jauh lagi, siapapun yang tak sependapat dengannya; tak menyukai hal itu, langsung saja diletakkan di posisi yang berseberangan; dianggap musuh. Ada juga kejadian, jika ada yang mengusik sesuatu atau seseorang yang diidolakan, yang bereaksi jauh lebih dulu adalah  para pencintanya, bukan sesuatu itu sendiri.

Berpikir subyektif.

Nah ini lagi yang sering terjadi. Ketika sesuatu dilihat dari siapa yang melakukan, bukan apa yang dilakukan. Ketika seseorang yang disuka melakukan atau membuat sesuatu, segera saja dipuja-puji. Sementara jika yang tak disuka yang melakukan sesuatu yang baik, ada saja alasan untuk menyudutkannya, hanya karena ketidaksukaannya.

Waras.

Sebut saya aneh atau apapun! Saya cenderung melihat sesuatu yang beda dari yang diperbincangkan orang-orang. Sesuatu yang dielu-elukan, saya cari jeleknya. Yang disudut-sudutkan, saya cari lurusnya; baiknya. Bukan untuk apa-apa, bukan untuk ditunjukkan kepada siapa-siapa juga. Hanya demi kewarasan saya sendiri. Mengetahui keburukan maupun kebaikan dari setiap hal dan menerimanya adalah inti.

Kamu fanatik terhadap sesuatu atau seseorang? Buka mata lebih lebar. Setidaknya, jadilah obyektif dalam menilai segala hal.

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

a quick escape – cilegon, lampung

23 oktober 2010 – 18.00

Entah apa yang ada di pikiran saya saat mendadak mengirim pesan singkat ke sahabat saya, Andri, yang tinggal di Cilegon, Banten.

“Kalo aku berangkat ke situ sekarang, jam berapa ya sampai di situ?”

Berawal dari pesan tersebut, berangkatlah saya dari kos di daerah Mampang sekitar pukul 19.00, menggunakan taksi ke arah Rumah Sakit Harapan Kita. Untuk selanjutnya menumpang bus antar kota ke Cilegon.

Nekat saja, seperti biasa. Berbekal pesan-pesan pendek dari Andri tentang rute yang harus saya tempuh. Seingat saya waktu itu isi otak saya terlalu penuh oleh masalah yang sekarang sudah tak berhasil saya ingat. Hehehe, short term memory lost.

Waktu itu adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di kota bernama Cilegon, sudah menjelang pukul 21.30 dan dalam kondisi mengenaskan. Kelaparan, lebih tepatnya. Langsung saja saya (yang sudah bertemu dengan Andri) melipir ke gerai makanan cepat saji 24 jam, yang tak lain tak bukan adalah KFC… *hening*

Segera setelah perut terisi sayap-sayap ayam goreng dan sekepal besar nasi, kami menuju ke mess tempat Andri tinggal. Tak banyak kegiatan malam itu. Hanya obrolan curahan hati dan selintas rencana besok mau ke mana.

24 Oktober 2010 – pagi

Terbangun dihadapi pertanyaan: mau ke mana? Pilihannya adalah Anyer atau……Lampung.

Lampung, yuk! Seru saya kegilaan. Maksud saya, sudah kabur ke Cilegon, sekalian saja gila. Sekalian saja, ke Lampung. Cantik-cantik begini *hening*, saya belum pernah sekalipun menjejak di tanah Andalas, alias pulau Sumatera. *silakan tampar*

Rembuk punya rembuk, beberapa teman Andri ternyata mau ikut juga. Jadilah kami berenam, termasuk satu guide, pacar tersayangnya Andri, sebut saja namanya Kak Nunu, nama sebenarnya *hening* menuju ke pelabuhan Merak.

Sudah hampir tengah hari ketika kapal beranjak dari pelabuhan Merak, mengarungi Selat Sunda. Saya yang jarang sekali naik kapal, lompat-lompat kegirangan. Lompat di dek saja, ga sampai nyemplung ke laut kok. *kenapa enggak?*

Setengah jam… sejam… saya mulai bosan. Mata menerawang ke lautan yang seperti tak bertepi. Mulai galau. Mulai ngantuk. Mulai berencana tidur. Sampai tiba-tiba saya menemukan sesuatu di tengah laut lepas. Bukan! Bukan ikan duyung kalau itu yang ada dalam bayanganmu. Bukan juga harta karun yang mengapung. *oke stop* Tapi sekawanan ikan lumba-lumba yang berenang berlompatan dengan lucunya. Tak lama. Setelah itu mereka hilang.

Dan saya bosan lagi.

Melamun lagi.

Sudah hampir dua jam terapung-apung di lautan, gerimis turun setetes dua tetes. Kami berlarian turun ke dek bawah. Akhirnya saya benar-benar tidur di situ.

Terbangun. Dan belum menjumpai daratan pula. Ada yang aneh.

Ternyata kapal masih dalam antrean untuk merapat ke dermaga pelabuhan Bakauheni. Perjalanan yang seharusnya hanya dua sampai tiga jampun menjadi terulur hingga empat setengah jam. Muka sudah kusut, tenaga nyaris habis, semangat merosot sudah ketika akhirnya kami menginjak tanah Andalas. 16.30!

Sejujurnya, kami…oke, ganti saja dengan saya, tak punya tujuan ke Lampung. Namanya saja perjalanan tak terencana, ditambah lagi, harus kembali ke Jakarta malam itu juga. Jadi ya, kira-kira ada waktu sekitar dua atau tiga jam di Lampung. Tidak mungkin juga untuk menuju obyek-obyek wisata, dan diperburuk oleh hujan yang dengan senang hati menyambut.

Jadilah kami terburu-buru ke rumah paman Kak Nunu yang berjarak hanya sekitar 2 km dari pelabuhan.  Lalu menuju ke Menara Siger yang tak jauh dari kediaman beliau. Menara Siger ini konon adalah lambang Provinsi Lampung yang bentuknya diadaptasi dari mahkota tradisional Lampung.

Tak lama di Menara Siger. Setelah berfoto-foto di bawah rintik hujan, kami kembali ke rumah paman Kak Nunu untuk istirahat sebentar kemudian langsung ke pelabuhan Bakauheni. Perjalanan kembali ke tanah Jawa tidak terlalu banyak cerita. Dengan sebuah buku di tangan, saya tidur-tiduran di geladak sampai benar-benar ketiduran. Menyimpan energi untuk besok, Senin pagi dan rutinitas kerja seperti biasa.

Kapal merapat di pelabuhan Merak lepas tengah malam. Setelah mengambil barang-barang yang tertinggal di mess Andri, langsung diantar Kak Nunu mencari bus tujuan kembali ke Jakarta.

25 Oktober 2010

Senin pagi, sudah nyaris subuh saat saya akhirnya tiba di kamar kos.

Perjalanan yang entah tujuannya apa, tapi bagi saya, perjalanan  itu lebih tentang apa yang saya alami di sepanjangnya. Bukan harus tentang tujuannya.

Sampai jumpa lagi, Cilegon, Lampung! :)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr