January 2015 archive

Sleeping in Airport – Kansai Osaka

If you are traveling on a budget and arriving in Kansai Airport Osaka late at night, you have to take a note that the last train out of this airport to Osaka area departs around midnight, taxis are available but they are the more expensive option you might have. Sleeping in airport hotel is considered more convenient (for sure), but if you really have a budget constrain, sleeping in the airport area might be the best idea.

As a traveler who sometimes sleep in airport due to some different reasons, I admit that sleeping in Kansai Airport was on my top chart for its convenience and security. There might some places that comfortable enough to stay, but I would love to recommend this area below for you. (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Menghidupkan Hidup

Living the life to the fullest.
~ unknown ~

Ada yang tiba-tiba mengusik pikiran saya sore ini. Sebuah pertanyaan yang mampir ke kepala, “How is life, Kid?”

Ini sudah memasuki bulan keenam sejak saya memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran. Pekerjaan saya sepuluh tahun belakangan adalah pekerjaan yang mengatur hidup saya, yang mengharuskan saya mematuhi rutinitas. Jam bangun, jam masuk kerja, jam makan, jam pulang, jam tidur, dan jam “hidup”. (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Menyusuri Jejak #DiBalikSecangkirKopi

Pukul lima sore hari itu, dia sedang tidak ke mana-mana, di luar hujan turun seharian. Ponsel yang diletakkannya di meja sudut ruang keluarga berdering. Setengah berlari dia dari dapur, sambil menjaga agar secangkir kopi susu panas yang baru dia seduh tidak tumpah. Cangkir kopi ketiganya hari ini.

Panggilan dari Jakarta. “Halo?” Sapanya singkat.

Setelah beberapa kalimat pembuka, lelaki di ujung telepon mengabarkan bahwa cerita tentang perempuan dan kopi yang ditulisnya, membuatnya terpilih untuk ikut dalam perjalanan ke perkebunan dan salah satu pabrik kopi terbesar di negeri ini. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Dia menahan diri supaya tidak menjerit kegirangan.

Sesudah telepon ditutup, dia tersenyum-senyum sambil menyesap kopi susu di tangannya yang sudah sedikit dingin. Jantungnya masih belum bisa ditenangkan. Pipinya memerah. Mau pergi ke kebun kopi senangnya seperti mau bertemu kekasih. Dia tak sabar lagi! (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr