March 2015 archive

Terima kasih, sudah menunggu

Kepada Tuan yang duduk di tepi jendela.

Kepada Tuan yang duduk di tepi jendela.

Kepada Tuan yang duduk di tepi jendela.

Apa saya pernah bercerita kepada Anda tentang semesta yang menata kebetulan demi kebetulan di hidup saya menjadi serangkaian panjang kesengajaan?

Ah! Sepertinya belum, ya, Tuan?

Bagaimana mungkin pernah, kalau waktu-waktu temu lebih banyak kita habiskan dalam percakapan-percakapan diam? (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Mencicipi Kopi Hasil Panen Pertama

Waktu menyusuri jejak di balik secangkir kopi di Lampung kemarin, saya sempat berbincang panjang dengan salah seorang petani tentang kualitas kopi. Kata si bapak, konon kopi hasil panen pertama setiap tahunnya, rasanya lebih enak. Tapi karena saya main ke sana itu pas bukan musim panen, jadi saya tidak bisa mencobanya.

Tapi dasar rezeki anak solehah, beberapa waktu setelahnya, saya ditawarin buat mencicipi Nescafé Classic First Harvest. Seperti namanya “First Harvest”, Nescafé Classic yang ini berbeda dengan Nescafé Classic yang biasanya beredar luas di pasaran. Nescafé Classic First Harvest diproses dari biji kopi pilihan hasil panen pertama. (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Pindah

Setelah episode menghidupkan hidup yang saya ceritakan sebelumnya dan serangkaian perjalanan-perjalanan yang saya lewati, pada akhirnya saya tiba di titik berhenti, untuk sementara.

Maka, di sinilah saya sekarang. Di kota yang seringkali dipanggil pulang oleh sebagian orang. Kota yang menjadi rumah bagi banyak rindu. Jogjakarta. (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

1 3 4 5