Ambon, the City of Music (and also Warung Kopi)

Port of Ambon

So, Ambon was on my wish list for quiet sometimes. Bagi saya, setiap tujuan perjalanan adalah perkara panggilan hati. Saya bukan tipe yang pergi ke suatu tempat karena semua orang pergi ke sana. In my case, Ambon sudah cukup lama ada di kepala, sampai akhirnya saya berhasil ‘memaksa’ kaki untuk terbang ke kota ini.

Berbekal tiket promo yang entah-bagaimana-caranya dimudahkan untuk saya dapatkan, karena waktu itu ada travel fair di Jakarta, sementara saya sedang ada di Medan, tapi akhirnya bisa terbeli juga karena bisa titip beli lewat teman. 

Pesawat mendarat di Bandara Internasional Pattimura Ambon menjelang sore tadi disambut mendung yang menggantung. Dalam perjalanan dengan bus Damri ke pusat kota, gerimis turun di sepanjang jalan. Saya datang saat kota sedang menyambut perayaan Paskah, di tepian jalan berjajar tanda salib dan aneka ornament Paskah lainnya. Saya belum pernah ke kota selain Ambon menjelang Paskah, tapi rasanya kota ini begitu meriah saat Paskah, hampir setara seperti saat Natal tiba.

Gereja Silo Ambon

Bus Damri mengantarkan saya sampai tiba tepat di depan Le Green Suite, tempat saya menginap. Naik bus Damri di Ambon enak. Bisa minta turun tepat di tempat tujuan. Atau mungkin cuma karena lokasi penginapannya dekat dengan jalur, atau mungkin malah memang jalurnya?

Ambon at first glance adalah kota yang menyenangkan buat saya. Kota ini punya warung kopi hampir di setiap sudutnya. Di setiap ruas jalan, pasti ada setidaknya satu warung kopi yang tidak pernah kelihatan sepi.

Rumah Kopi Trikora Ambon

Setelah check in dan berberes seadanya, saya bersama travelmate saya menyusuri lorong-lorong pusat kota Ambon, sampai menemukan Warung Kopi Joas yang direkomendasikan oleh seorang teman baik.

Kami memesan menu andalan warung kopi ini, selain kopi tentu saja, yaitu sepiring sukun goreng dan kasbi / singkong goreng yang disajikan dengan sambal untuk dicocol. Rasa gorengannya membuat saya hampir yakin kalau sukunnya pasti didatangkan langsung dari surga. Nyum!

Masjid Al-Fatah Ambon

Usai episode sukun, kasbi, dan secangkir kopi, kami keluar untuk menikmati Ambon yang mulai dipayungi jingga senja. Kami berjalan ke arah gereja yang pada peristiwa kerusuhan Ambon beberapa tahun lalu, sempat menjadi lokasi pusat kerusuhan dan dibakar, Gereja Silo, kemudian ke Masjid Raya Al-Fatah, lalu berbelok ke Lapangan Merdeka.

Ikan bakar dan colo-colo

Kami menutup jalan-jalan kami dengan makan malam seekor ikan kerapu seharga 25.000 di salah satu warung di lorong ikan bakar Jl. Sam Ratulangi. Ikan bakar di Ambon disajikan dengan sepiring besar nasi dan sambal segar yang khas dan wajib untuk dicoba.

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

3 Comments on Ambon, the City of Music (and also Warung Kopi)

  1. Yudi Randa
    10/04/2015 at 10:18 (2 years ago)

    jadi pengen minum kopi aceh Kak ..

    Reply
  2. putri normalita
    14/04/2015 at 14:29 (2 years ago)

    <<<< nggak begitu tau banyak ttg kopi, tapi tetep mau banget ke Ambon.
    minimal satu bulan kali yah :)

    Reply
  3. Fahmi
    22/05/2015 at 17:34 (2 years ago)

    Jadi kopi spesial dari ambon kayak gimana? Ada kopi lokalnya juga kah?

    Reply

Leave a reply to Yudi Randa Cancel reply