Amsterdam, 3.10 pagi.

Minggu pagi. Langit masih muram sebab hujan belum menunjukkan tanda akan berhenti dari semalam. Lilac mengerlingkan matanya ke arah dinding bertekstur bata merah di sisi kanannya. Baru pukul sembilan.

Diaduknya perlahan secangkir hangat teh melati yang wanginya bersaing dengan roti panggang untuk menguasai ruangan. Kemudian ditariknya satu dari dua kursi yang semula berhadapan hanya terpisah meja makan di dapur kecil miliknya, tepat ke depan jendela.

Lilac sangat suka duduk berlama-lama menatapi bulir-bulir hujan membasahi kaca yang di depannya terdapat sederet pot-pot bunga aneka warna yang ditanamnya. Saat hujan deras sampai dingin membuat kaca-kaca jendelanya berembun, Lilac mengambil sumpit dari ujung meja, dan menulis sebaris pendek puisi di situ. Puisi yang selalu hanya untuk satu orang.

Sunday morning rain is falling…” siul-siul ceria memecah sunyi di kepala Lilac, beberapa detik sebelum sepasang bibir menyentuh sekilas pucuk rambut di keningnya, tepat saat dia menoleh ke arah sumber suara. Wangi after shave maskulin pun tercium segera. Abi.

“Good morning, fairy…” Sapa Abi ringan kepada Lilac, sambil melintasi ruang dapur menuju mesin pembuat kopi. Lilac membalasnya dengan senyum, “Sarapan kamu sudah siap”, kata-katanya menyusul, lalu memalingkan wajahnya kembali ke surga di depannya. Kaca jendela berbulir hujan.

Abi kemudian duduk di kursi yang tinggal sendiri, sebab pasangannya sudah ditarik lebih dulu  oleh Lilac. Dia merasa senasib dengan kursi itu, sama-sama sendiri. Dan sesama penyendiri, sebaiknya mereka saling menghibur dan menemani. Sebelum mereka berdua habis diisap sepi.

Di luar, hujan belum juga habis. Lilac sudah bersiap mengambil sumpit dari ujung meja. Diliriknya jam dinding di sisi kiri dapur mungilnya, 3.05 pagi.

“Nulis puisi lagi, Lil?” Abi bertanya. Berusaha membuat kehadirannya disadari oleh Lilac. Sama seperti usaha-usahanya sebelumnya. Berusaha membuat Lilac sadar, dia punya Abi dalam hidupnya. Dan sama seperti yang sebelum-sebelumnya pula, Abi lebih sering gagal daripada berhasil.

Tiga tahun menikahi perempuan yang kini duduk membelakanginya, dan dia selalu merasa mendadak kehilangan, setiap kali hujan deras turun membuat kaca-kaca apartemen lantai tiga mereka berembun. Lilac seperti tiba-tiba hilang di dunianya sendiri. Dunia yang terhampar di depan mata tapi tak pernah bisa dimasuki oleh Abi.

Dunia yang menghasilkan ratusan puisi-puisi pendek di jendela setiap kali hujan turun pukul sembilan pagi. Puisi-puisi yang Lilac akui tentang Abi, tapi dia tak pernah mengizinkan Abi membacanya. Puisi yang toh akhirnya pernah juga Abi baca saat Lilac lengah meninggalkannya sebelum terhapus hangat udara dapurnya. Yang selalu selesai ditulis dan ditanda tangani, Amsterdam, 3.10 pagi.

Puisi yang rupanya setelah sekian tahun, masih tentang lelaki masa lalu yang masih saja berhasil membawa pergi Lilac setiap hujan deras turun dan membuat kaca-kaca apartemen di lantai tiganya berembun. Puisi yang jadi alasan kenapa di dapur mereka ada dua jam dinding yang jarum pendeknya saling mengejar dalam selisih enam jam. Yang selalu diakui Lilac bahwa salah satunya rusak, dan meskipun sudah diperbaiki Abi nyaris setiap hari, tapi lalu diputar ulang lagi oleh Lilac.

“Nulis apa kali ini?” Tiba-tiba Abi sudah meletakkan dagunya di bahu Lilac. Pertanyaan yang kali ini tiba tepat di telinga kanan, berhasil masuk ke dunia Lilac dan membuatnya terperanjat. Abi menahan tangan Lilac yang secara refleks nyaris menghapus semua tulisannya sekaligus.

“Biar saya baca dulu, dong. Kamu curang deh, katanya nulis puisi buat saya tapi sayanya nggak boleh baca.” Lilac mengalah, lalu tersenyum, menatapi mata Abi yang menyipit, serius membaca puisi pendek yang ditulisnya bermodalkan sumpit dan embun.

“Maaf, Abi. Saya kirain kamu sudah ke depan.” Abi mengulum senyum tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela berpuisi. “Kenapa harus minta maaf? Saya suka kok baca puisi-puisi yang kamu tulis.”

“Memangnya kamu pernah baca?” Lilac sedikit panik. Suami macam apa Abi, yang tahu istrinya mencintai lelaki lain tetapi hanya mendiamkannya dan pura-pura tidak tahu. Abi mengangguk lalu membelai lembut rambut Lilac yang masih setengah basah dan beraroma segar shampoo.

“Beberapa kali. Meskipun saya tahu, puisi-puisi yang kamu tulis bukan untuk saya, saya akan membacanya sesering kamu mengizinkannya. Saya menyebutnya sebagai bagian dari mencintaimu, Lilac.” Lilac merasa dadanya seketika lebih hangat daripada secangkir teh yang diseduhnya tadi.

“Saya tidak tahu butuh waktu berapa lama lagi untuk saya bisa sepenuhnya menggantikan lelaki itu. Saya bertahan karena yakin, suatu saat nanti, kamu akan menulis satu puisi buat saya. Lebih dari itu. Saya yakin kamu akan sadar saya yang selalu ada untuk kamu. Tidak perlu menunggu hujan turun dulu.” Lanjut Abi kepada mata Lilac yang mendadak berembun.

“Maaf, Abi. Maaf sudah membuat kamu selalu menunggu saya yang menunggu hujan turun.” Lilac memeluk Abi yang sudah lebih dulu memeluknya. “Tuhan, saya sayang sekali lelaki ini.”

“Tapi kenapa puisi ini rasanya beda seperti yang kemarin-kemarin, ya?” Lilac melepas pelukannya. “Apanya yang berbeda?” Dia bertanya balik, menantang Abi dan membiarkannya berpikir, sambil berjalan ke arah kiri ruangan.

Abi mengerenyit membaca ulang puisi di jendela pagi ini. “Jakarta, 9.10 pagi?” Tanya Abi kepada Lilac yang sudah naik di atas kursi. Tangannya menggapai tinggi.

“Abi, saya rasa kita sudah tidak perlu lagi jam dinding yang ini. ”

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Leave a Reply