Archive of ‘a thought’ category

Terima kasih, sudah menunggu

Kepada Tuan yang duduk di tepi jendela.

Kepada Tuan yang duduk di tepi jendela.

Kepada Tuan yang duduk di tepi jendela.

Apa saya pernah bercerita kepada Anda tentang semesta yang menata kebetulan demi kebetulan di hidup saya menjadi serangkaian panjang kesengajaan?

Ah! Sepertinya belum, ya, Tuan?

Bagaimana mungkin pernah, kalau waktu-waktu temu lebih banyak kita habiskan dalam percakapan-percakapan diam? (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Mencicipi Kopi Hasil Panen Pertama

Waktu menyusuri jejak di balik secangkir kopi di Lampung kemarin, saya sempat berbincang panjang dengan salah seorang petani tentang kualitas kopi. Kata si bapak, konon kopi hasil panen pertama setiap tahunnya, rasanya lebih enak. Tapi karena saya main ke sana itu pas bukan musim panen, jadi saya tidak bisa mencobanya.

Tapi dasar rezeki anak solehah, beberapa waktu setelahnya, saya ditawarin buat mencicipi Nescafé Classic First Harvest. Seperti namanya “First Harvest”, Nescafé Classic yang ini berbeda dengan Nescafé Classic yang biasanya beredar luas di pasaran. Nescafé Classic First Harvest diproses dari biji kopi pilihan hasil panen pertama. (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Pindah

Setelah episode menghidupkan hidup yang saya ceritakan sebelumnya dan serangkaian perjalanan-perjalanan yang saya lewati, pada akhirnya saya tiba di titik berhenti, untuk sementara.

Maka, di sinilah saya sekarang. Di kota yang seringkali dipanggil pulang oleh sebagian orang. Kota yang menjadi rumah bagi banyak rindu. Jogjakarta. (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Menghidupkan Hidup

Living the life to the fullest.
~ unknown ~

Ada yang tiba-tiba mengusik pikiran saya sore ini. Sebuah pertanyaan yang mampir ke kepala, “How is life, Kid?”

Ini sudah memasuki bulan keenam sejak saya memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran. Pekerjaan saya sepuluh tahun belakangan adalah pekerjaan yang mengatur hidup saya, yang mengharuskan saya mematuhi rutinitas. Jam bangun, jam masuk kerja, jam makan, jam pulang, jam tidur, dan jam “hidup”. (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Catatan Patah Tulang

Seradikal apa hidupmu pernah berubah?

Pernahkah kamu merasa semua sudah lengkap tapi tidak tersusun tepat pada tempatnya?

Saya pernah, dan ini sebuah catatan hidup saya.

Pada akhirnya, pada sebuah titik, saya memutuskan untuk mengubah apa yang telah ada. Sebelum saya merasa terjebak di sana, selamanya. Mudah? Sama sekali tidak.

Kehilangan yang terlalu banyak untuk saya tanggung dalam waktu yang bersamaan. Hubungan enam tahun saya, teman-teman, dan hal yang mungkin selama sekian lama berani saya sebut sebagai kenyamanan.

Seperti layaknya patah tulang yang coba diluruskan oleh ahli pemijatan. Saya pernah menjerit sekerasnya. Menangis sampai air mata habis sampai pada titik yang saya sadari sebagai titik normal kaki saya. Pada titik saya mulai bisa berjalan dengan baik, tanpa merasai kesakitan dari apa yang telah saya lepaskan.

Move on? Entahlah. Tapi saya mulai merasa baik-baik saja.

~ Juli, 2012

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

1 3 4 5 6 7