Mumble

Kopi Edisi Susu
Kopi Edisi Susu

Kalo lagi nggak pengin ngopi item tanpa gula seperti biasanya, saya suka iseng bikin kopi susu, buat selingan. Variasi dan kombinasi kopi dan susunya bisa bermacam-macam, tergantung suasana hati.

Malam ini, setelah secangkir Kenya Thika Asali, saya pengin bikin kopi susu, tapi yang nggak manis.

Jadi saya beli susu putih UHT lalu menggiling 20 gram Bali Kintamani. Kemudian saya mengambil 100 ml susu dan mencampurnya dengan 200 ml hasil gilingan kopi, plus beberapa pecahan es batu.

Hasilnya? Not bad. Calon teman begadang yang menyenangkan malam ini.

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble

Welcome to naishakid.com
Welcome to naishakid.com

Disclaimer : kegiatan ini memerlukan biaya alias tidak gratisan.

Belakangan ini saya sering ditanya, “gimana sih caranya bikin blog pakai nama (domain) sendiri?” Yang seringkali dilanjutkan dengan, “bantuin, dong!”

Padahal sebenarnya caranya gampang, nggak ribet dan nggak panjang. Kecuali, situ mau bikin desain sendiri atau customize temanya yang susah-susah. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble

Untuk: Tuan Sapardi

Hujan Bulan Juni
Hujan Bulan Juni

Saya membeli sepilihan sajak milik Tuan, Hujan Bulan Juni, beberapa hari yang lalu sebagai kado ulang tahun untuk perempuan kesayangan saya. Sejak saat itu, buku Tuan tak pernah absen dia bawa ke mana-mana.

Tadi malam, dia sedang berbincang di depan kedai kopi bersama dua orang teman ketika hujan tiba-tiba datang, dan dia seketika ingat buku yang penuh hujan di ranselnya. Ditariknya buku itu dan dengan spontan dia bertanya kepada salah satu dari lelaki yang duduk semeja dengannya, “Halaman berapa?” Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble

This post should be the very first ‘proper’ book review in this blog, or that’s what I think by far.

The first five books of Fever Series

Saya dipertemukan dengan buku ini di sebuah sale yang diadakan oleh Periplus pada suatu hari di tahun 2013. Pada awalnya, saya tidak memberi perhatian lebih karena cover yang menurut saya biasa saja. Kayak masnya, saat pertama kami jumpa.

Iya, saya makhluk yang kemampuan curhat visualnya lebih unggul dibanding kemampuan verbal dan vokal, sehingga seringkali saya judging book by its cover. Maaf-maaf aja nih, ya.

Tapi karena saat itu diskonnya lagi besar-besaran, saya sedang mood buat baca banyak, dan hasil ngecek Goodreads ternyata rating -nya di atas 4 out of 5, akhirnya saya angkut lah lima buku pertama The Fever Series sekaligus. Darkfever, Bloodfever, Faefever, Dreamfever, dan Shadowfever.

Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr