Footprint, Mumble

Kalo kata orang-orang, judulnya spoiler banget. Iya, emang! Harafiah seharafiah-harafiahnya.

Jadi cerita ini berawal dari agenda untuk ngurus pengajuan visa Jepang. Saya baru inget kalo alamat di Paspor dan KTP sekarang beda, karena saya pindah rumah. Sementara, Kedubes Jepang itu membagi pelayanan pengajuan visa di Konsulat per wilayah Yuridiksi. Yang artinya, kalo KTP dan Paspor ngana alamatnya di Ambon, janganlah iseng ngajuin visanya di Jakarta. Topik pengajuan visa Jepang ini nanti saya bahas terpisah lah, ya. Karena di sini bukan itu inti permasalahannya. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble, Seriously Serious Thoughts

jadi, tadi saya nggak sengaja terjebak percakapan dengan teman, topiknya, “kenapa pacaran bertahun-tahun bisa putus?”.

jangan deh dijawab klise, “ya kenapa nggak bisa?” basi!

seperti biasa, muncullah jawaban diplomatis nan teoritis dari saya, seperti ini: Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble

sebuah perjuangan, pada akhirnya akan mencapai titik akhir; kalah atau menang

Anggap sajalah lima tahun kuliah (kurangi satu tahun cuti) adalah perjuangan, dan wisuda; proses akhir kelulusan adalah kemenangan. Ada kelegaan ketika akhirnya bisa mengatakan, “akhirnya”. Sebuah gelar, telah (dipandang) layak ditambahkan di belakang nama saya saat ini.

Bukan lulusan terbaik, nilai IPK pun tak mencapai cumlaude, tapi memang bukan itu tujuan saya kuliah. Tunggu, tujuan kuliah? Memutar ulang rekaman ingatan lima tahun lalu. Tujuan kuliah saya, apa ya?

Kalau boleh jujur, saya tak belajar banyak saat kuliah. Pendidikan saya sebelumnya adalah SMK dengan jurusan yang sama dengan jurusan kuliah saya (pada akhirnya), sehingga banyak sekali rasanya materi yang seperti diulang. Jadi, kalau diingat lagi, mungkin tujuan kuliah saya, memang hanya sesederhana mendapatkan gelar sarjana. Titik.

Bukan rahasia lagi bahwa dunia kerja pada umumnya, di negeri ini pada khususnya, seringkali masih mempertanyakan pendidikan terakhir dan gelar. Baru kemudian kemampuan dan kompetensi ada di urutan berikutnya. Meskipun, tentu saja, selalu ada pengecualian.

Beruntunglah saya termasuk satu dari orang-orang yang mendapatkan pengecualian tersebut. Bahwa saya dapat bekerja sejak jauh sebelum sarjana, dengan penghasilan yang cukup layak untuk hidup, makan dan membiayai kuliah saya sendiri. Meskipun (lagi) ternyata jenjang pendidikan masih berpengaruh pada peningkatan karir.

Padahal, tentang apakah setelah wisuda dan sarjana karir saya akan meningkat atau tidak, siapapun tak bisa menjaminnya, bukan?

Kenapa topiknya mendadak berat? Ya sudahlah, intinya saya sudah memenangkan perjuangan ini.
*tsah* *lempar topi*

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble

saya mau pengakuan dosa..

mau bilang kalo blog ini sempet dicuekin karena beberapa alesan..
bukan karena ga ada yg diceritain, kalo mau sih, buanyak banget topiknya..

cuma waktu itu sempet selingkuh nulis ke plurk..
trus sekarang semakin menggila di twitter..

bertemu komunitas maya macam @puisikita dan @cerfet
yang disebut belakangan ini yang membuat saya jatuh cinta luar dalam *etdah bahasanya*

ya sudah sekian aja pengakuan dosanya..
kalo mau tau tentang @cerfet, kunjungi langsung blognya disini

dan sebelumnya, mau minta maaf lagi, mungkin blog ini akan jarang diupdate..
yang akan sering diupdate adalah potongan kicauan saya di twitter..

liat saja disini..
hati-hati, banyak curhatan galau di dalamnya..

enjoy!

xoxo,
kid

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble

Well, yeah, I’m back..

Akhirnya blog ini dihidupkan lagi.. Setelah kemarin ada masalah dengan domain lama, yang ternyata expired tanpa notifikasi :'(

And so, ada banyak cerita yg ‘direncanakan’ akan tertulis di sini, semoga saja telaten nulis lagi. Amin ;p

xoxo ^_^

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr