Archive of ‘Word’ category

Letter #8 – The Dysfunctional Conversation

Letter #8

The Dysfunctional Conversation

 

I want to see every full moon, from every place you travel, with your eyes.

 

It has been eight months now.
Three thousand miles away from our hometown.

From you.

Here I am, sitting on the front porch stairs.
Keeping a promise I once made.
To tell the story of every full moon.

To you.

# (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Itu Aku

:)

“Gue ga percaya ada cowok baik yang segitu sayang sama ceweknya. Yang kayak gitu cuma ada di film cinta-cintaan doang, ya kan, Bay? Hahaha.”

Dia tertawa getir. Meneguk minuman dari gelas keempat di tangannya. Sekali lagi aku menemaninya. Menemani patah hatinya. (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Happy Birthday, Dear Soulmate!

Aku ingat betul, tepat satu tahun yang lalu, entah mengapa aku tiba-tiba ingin mengirimkan pesan “selamat ulang tahun” kepadamu. Kita sudah saling kenal cukup lama waktu itu, tetapi tidak begitu akrab dan tidak terlalu sering bertukar sapa.

Lalu setelah pesan itu, entah mengapa pula, aku merasa ingin menceritakan banyak hal kepadamu. Membagi banyak sekali kegelisahan yang saat itu aku rasakan. Aku pun ingat betul, kamu waktu itu, menyangka aku sedang galau sebab patah hati. Padahal bukan.

Setelah beberapa kali percakapan panjang, kamu mulai menangkap bahwa kecewa dan patah hatiku adalah pada kehidupan. Kegelisahan terbesarku tentang menjadi manusia dan pilihan-pilihan hidup.

Sejak saat itu, kamu menjadi orang yang seperti laut bagiku, menerima dan membantuku menelan semua kebingungan. Kamu tidak pernah menggurui. Kamu, lebih seperti teman belajar yang men(y)enangkan. Pelajaran tentang perjalanan, tentang agama, tentang membaca pertanda semesta, tentang hidup seiring embus angin. (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Falling in Love at a Coffee Shop

Coffee Shop at Arashiyama, 2014

a Coffee Shop at Arashiyama, January 2014

Perempuan itu duduk sendiri di meja paling sudut kedai kopi milikku ini. Hampir selalu begitu. Kegiatan yang dia lakukan hanya dua, jika sedang tidak menulis, dia pasti membaca. Sesekali dia duduk di depan meja barista. Mengajakku membicarakan perihal kopi atau sekadar cuaca hari ini.

Pertama kali dia datang, kurang lebih dua puluh lima hari yang lalu, dia menjelaskan pesanannya secara rinci. Yang dia pesan hanya antara dua pilihan, jika bukan kopi susu dengan komposisi susu yang sedikit sekali, dia pasti memesan kopi hitam saja. Tanpa gula. (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Kepada: Saling

Untuk: Tuan yang duduk di tepi jendela [2]

Bukan salah saya atau Anda, jika kita baru bertemu ketika Anda sedang patah hati dan saya sedang tidak percaya cinta lagi.

Yang saya selalu percaya, pertemuan kita sama dengan semua perjumpaan apapun dan siapapun di semesta, tidak terlambat, tidak juga terlampau cepat.

Hingga kelak kita tahu apakah kita sama-sama saling menjadi obat, atau bahwa kita ialah sekadar persimpangan takdir sesaat.

Hingga kelak itu tiba, terima kasih sudah membuka jendela untuk saya dan membagi sedikit luka. Terima kasih telah membagi kita saat ini, kita yang hanya mampu saling menghibur dan menyamankan diri. Menjaga diri saya dan Anda dari saling melukai.

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

1 2 3