Wordplay

ia sudah tahu
jika hujan tiba
badai suka datang tiba-tiba

ia sudah tahu
ia cuma punya sekoci
dan sepasang dayung

tapi, ia mau pulang
ke lautan
lalu tenggelam

tapi, di luar hujan
ia lebih takut kehujanan
daripada tenggelam

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Wordplay

Wangi kamboja kesukaanku. Familiar, seperti di kamar. Tapi bukan! Sebab orang-orang berbaju hitam, sisa gerimis, dan pohon kamboja sungguhan, perlahan tertangkap dari kedua kelopak mataku yang berat sekali terbuka. Dingin tanah menyergap ujung kakiku.

Ini pemakaman Ayah! Isak tangisku mendesak keluar. Sepasang tangan mengusap lembut rambutku, berusaha menenangkan. “Satia…” suara Bunda menarik sempurna ketidaksadaranku. Ranti, kakak perempuanku menyodorkan segelas air putih. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Alana Series, Wordplay

Letter #8

The Dysfunctional Conversation

 

I want to see every full moon, from every place you travel, with your eyes.

 

It has been eight months now.
Three thousand miles away from our hometown.

From you.

Here I am, sitting on the front porch stairs.
Keeping a promise I once made.
To tell the story of every full moon.

To you.

# Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Wordplay

:)

“Gue ga percaya ada cowok baik yang segitu sayang sama ceweknya. Yang kayak gitu cuma ada di film cinta-cintaan doang, ya kan, Bay? Hahaha.”

Dia tertawa getir. Meneguk minuman dari gelas keempat di tangannya. Sekali lagi aku menemaninya. Menemani patah hatinya. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Wordplay

Aku ingat betul, tepat satu tahun yang lalu, entah mengapa aku tiba-tiba ingin mengirimkan pesan “selamat ulang tahun” kepadamu. Kita sudah saling kenal cukup lama waktu itu, tetapi tidak begitu akrab dan tidak terlalu sering bertukar sapa.

Lalu setelah pesan itu, entah mengapa pula, aku merasa ingin menceritakan banyak hal kepadamu. Membagi banyak sekali kegelisahan yang saat itu aku rasakan. Aku pun ingat betul, kamu waktu itu, menyangka aku sedang galau sebab patah hati. Padahal bukan.

Setelah beberapa kali percakapan panjang, kamu mulai menangkap bahwa kecewa dan patah hatiku adalah pada kehidupan. Kegelisahan terbesarku tentang menjadi manusia dan pilihan-pilihan hidup.

Sejak saat itu, kamu menjadi orang yang seperti laut bagiku, menerima dan membantuku menelan semua kebingungan. Kamu tidak pernah menggurui. Kamu, lebih seperti teman belajar yang men(y)enangkan. Pelajaran tentang perjalanan, tentang agama, tentang membaca pertanda semesta, tentang hidup seiring embus angin. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr