Mumble

Kisah Tentang Opname Selama 2 Bulan

Memasuki bulan keenam di tahun 2019, terjadi sebuah peristiwa yang cukup mengguncang hidup saya dan berlangsung sampai pertengahan bulan Agustus ini. Berawal dari sakit yang kayaknya sepele: ‘cuma’ batuk-batuk, pada akhirnya saya divonis TBC paru-paru dan musti dirawat di rumah sakit selama 2 bulan lebih. Tepatnya 9 minggu.

Buat yang follow saya di Twitter dan termasuk yang penasaran thread saya ini lagi ngitung apaan, jawabannya adalah: menghitung hari-hari saya dirawat di rumah sakit :)))

Kenapa kok sampai dirawat segitu lamanya?

Saat didiagnosa TBC, saya lagi di Uni Emirat Arab (UEA). Saya tinggal di negara ini sebagai pemegang residence visa karena Masjo (suami saya) kerja di sini.

UEA adalah salah satu negara yang menerapkan penanganan super serius atas kasus TBC. Negara ini berkomitmen menjadi negara yang bersih dari TBC. Itu sebabnya tiap ada kasus TBC ditemukan, penderita wajib dikarantina sampai statusnya tidak lagi bisa menularkan bakteri.

Nggak kayak di Indonesia, ya? Hehe…

Indonesia adalah negara dengan jumlah kasus TBC tertinggi ketiga di dunia. Asumsi saya sih salah satunya karena penanganannya nggak ‘serius’ kayak di UEA. Setau saya, pasien TBC di Indonesia nggak pake acara dikarantina di rumah sakit, tapi langsung boleh rawat jalan, jadi mungkin penyebarannya lebih sulit dikendalikan.

Jadi, gimana cara penanganan TBC di UEA? Lebih lengkapnya baca di sini!

Lalu, apa rasanya diopname selama dua bulan lebih?

Di awal perawatan (11 Juni), saya dikasih informasi bahwa saya akan dirawat selama minimal dua minggu. Metodenya adalah dikasih obat selama dua minggu, setelah itu akan dilakukan tes. Kalo tesnya hasilnya bagus, boleh keluar rumah sakit, kalo belum, akan stay another two weeks. Nanti dua minggu berikutnya dites lagi, dan kalo hasilnya belum bagus, akan dites dua minggu lagi. Jadi siklusnya per dua minggu.

Dua minggu pertama, saya kondisinya masih prima! Batuk udah jauh berkurang, dada berasa enteng, pikiran bagus. Optimis banget saya bisa keluar rumah sakit setelah dua minggu pertama. Tapi ternyata, tidak semudah itu Ferguso! :)

Hasil tes sesudah dua minggu pertama (25 Juni), bakteri TBC masih positif, artinya masih menular.

First breakdown!

Saat hasil tes dua minggu pertama keluar, saya mengalami breakdown pertama. Mulai frustasi dan menghabiskan banyak waktu dengan menangis. Di titik ini, dalam satu minggu ke depan (6 Juli), sahabat saya akan menikah. Saya udah beli tiket, udah rencana datang, bahkan saya mustinya kebagian buat baca speech. Tentu saja, semuanya harus batal. I was devastated! Disa, if you’re reading this, you know I can’t apology enough for not making it to your wedding.

Moving on to the third-and-fourth week. Saya masih cukup yakin bahwa sesudah satu bulan, tentunya bakteri sudah tewas. Dua minggu yang kedua saya lalui dengan cukup tenang. Tapi ternyata, hasil tes mikro organisme bedebah itu masih terlalu kuat untuk dikalahkan. Saya masih harus bertahan di rumah sakit dua minggu lagi.

Second breakdown!

Di akhir minggu keenam (23 Juli), hasil tes menunjukkan bakteri TBC masih aktif di dalam paru-paru saya meskipun jumlahnya sudah jauh menurun. I was getting more devastated and depressed! Enam minggu di rumah sakit mulai memakan kewarasan saya. Ditambah lagi, minggu depannya (4 Agustus), salah satu teman baik saya juga menikah. Dua bulan di rumah sakit, dan saya melewatkan dua pernikahan teman baik :(

Melihat kondisi mental saya semakin memburuk, dokter memutuskan untuk memberikan suntikan semangat dengan mengubah jadwal tes saya yang semula dua mingguan menjadi setiap minggu. Saya sedikit merasa lebih baik. Semangat sedikit sebab nggak perlu menunggu dua minggu untuk tau bisa keluar rumah sakit atau belum.

Hal yang paling membuat frustasi selama dirawat adalah ketidakpastian. Tidak ada seorang pun (bahkan dokter) yang bisa memastikan sampai kapan saya akan berada di rumah sakit. Satu-satunya prasyarat keluar dari rumah sakit adalah bakteri TBC negatif, yang artinya sudah tidak menular. Satu-satunya cara untuk tau bakterinya negatif atau positif adalah melalui tes dua mingguan itu. Jadi bayangkan betapa sulitnya memelihara harapan agar tetap hidup ketika harapan itu dihancurkan setiap dua minggu sekali :)

Minggu ketujuh (30 Juli), kondisi emosi saya stabil, tetapi bakteri TBC masih positif. Dalam kepala saya, it’s okay, it’s just gonna be another week. Jadi kalo orang yang pengin hamil tuh pas ngetes pake test pack kan mikirnya “semoga positif semoga positif”, nah kalo saya sepanjang di rumah sakit mikirnya, “plis negatif plis negatif”. :)))

Third breakdown!

Minggu kedelapan (6 Agustus), genap 2 bulan. I have such a high hope that keterlaluan amatlah kalo udah sampe dua bulan bakterinya belum negatif juga.

Oh ya, sebagai gambaran, tes mingguan ini dilakukan dengan metode pengambilan sample dahak. Butuh 3x sample yang menunjukkan bakteri negatif untuk bisa diizinkan keluar rumah sakit. 3x sample ini diambil dalam 3 hari berturut-turut. Ketentuannya, kalo sample hari pertama negatif, hari berikutnya akan ada tes kedua. Tapi kalo sample hari pertama positif, otomatis hari kedua nggak perlu tes lagi. Tes berikutnya baru minggu depan. Kalo sample hari pertama negatif tapi sample hari kedua positif, hari ketiga nggak akan dites lagi. Baru minggu depannya.

Minggu kedelapan ini, tes hari pertama bakterinya negatif. I was sooo happy! Tapi kemudian, hasil tes hari kedua menunjukkan hasil bakteri positif (lagi). Then there it was, the third breakdown. I was so hopeless. I feel like everything I’ve done was useless, pointless.

Finally, a wrap!

Berkat dukungan dari orang-orang terdekat, di minggu kesembilan saya berhasil membangun semangat lagi. Tanggal 13 Agustus saya menjalani tes lagi. Tes pertama dalam minggu tersebut. The result came out negative. Belajar dari minggu sebelumnya, saya nggak terlalu euforia mendengarnya. Biasa aja biar kalo besoknya hasil tesnya positif, saya nggak breakdown lagi.

Tanggal 14 Agustus, hari kedua tes, hasilnya negatif lagi. So there were already two consecutive negative results. Cuma kurang satu kali tes lagi buat menentukan keluar rumah sakit. Tanggal 15 Agustus (Kamis), hari ketiga tes adalah hari di mana rasanya jantung saya mau meledak karena terlalu deg-degan. Sayangnya, kesabaran saya masih terus diuji.

Jumat adalah akhir pekan di UEA, artinya sebagian besar institusi libur. Nah biasanya, hari Kamis tuh jam efektif kerjanya cuma setengah hari. Biasalah, udah males kerja kalo udah deket weekend, ye kan?

Tanggal 15 sore, suster ngasih tau kalo hasil tesnya belum ada karena udah mau weekend. Wkwkwk~ benar-benar sebuah ujian kesabaran. Jadi kemungkinan hasilnya keluar Jumat besoknya. Ya baiklah, jadi saya menghabiskan Kamis malam dan sepanjang hari Jumat dengan lanjut deg-degan.

Jumat (16 Agustus) sore adalah momen paling membahagiakan sepanjang dua bulan terakhir dalam hidup saya karena hasil tes ketiganya juga negatif, artinya saya boleh keluar rumah sakit. ALLAHU AKBAR! I was ecstatic!

Eh tapi namanya juga hidup ya, tentu saja, ada ujian kesabaran lain dong :)

Berhubung Jumat (dan Sabtu) adalah akhir pekan, jadi nggak ada dokter dan petugas administrasi yang bertugas, maka saya harus menunggu sampai hari Minggu (18 Agustus) untuk bisa keluar dari rumah sakit. Wkwkwk~ ada-ada saja, yha!

Jadi demikianlah kisahnya, akhirnya setelah 9 minggu, pada tanggal 18 Agustus 2019 pukul 4 sore, saya resmi keluar dari rumah sakit. :’)


Side stories:

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

2 Comments

Leave a Reply to Reh Atemalem Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.