Mumble, Seriously Serious Thoughts

Menghidupkan Hidup

Living the life to the fullest.
~ unknown ~

Ada yang tiba-tiba mengusik pikiran saya sore ini. Sebuah pertanyaan yang mampir ke kepala, “How is life, Kid?”

Ini sudah memasuki bulan keenam sejak saya memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran. Pekerjaan saya sepuluh tahun belakangan adalah pekerjaan yang mengatur hidup saya, yang mengharuskan saya mematuhi rutinitas. Jam bangun, jam masuk kerja, jam makan, jam pulang, jam tidur, dan jam “hidup”.

Saya memenuhi semua ciri-ciri makhluk hidup tapi merasa begitu jauh dari hidup.

Hingga akhirnya, negara angin menyerang. Setelah sekian tahun begitu banyak pertimbangan yang terjadi di antara kepala dan hati, yang sayangnya sering dimenangkan oleh kepala, saya memilih mengikuti kata hati. Saya mengundurkan diri dari pekerjaan yang menghidupi saya selama ini.

Saya tidak punya sesuatu yang spesifik yang ingin saya lakukan setelah tidak lagi berangkat ke kantor setiap pagi. Saya pergi dari Jakarta, kota tempat tinggal saya sembilan tahun terakhir. Saya melepaskan begitu banyak hal yang selama ini menahan kaki saya untuk melangkah. Saya membebaskan diri saya, untuk hidup.

Flores Sea

Saya pulang ke rumah orang tua selama beberapa minggu. Saya menjadi relawan. Saya menyusuri jalanan pulau Jawa, dari Jakarta, menyeberangi Bali, menuju Lombok, menginjak Sumbawa, memeluk Flores, menyelami Moyo, menjejak Satonda, mencicip kopi di Lampung. Saya mengizinkan diri saya, untuk hidup.

Saat ini, saya sedang berada di Jakarta. Saya masih bekerja. Selama saya berjalan, saya pun bekerja. Hanya saja, kini saya bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja. Saya memegang kuasa untuk memilih mengerjakan apa yang ingin saya kerjakan.

Sejauh ini, saya tidak pernah kekurangan, dalam segi materi atau apapun. Saya punya Tuhan yang begitu baik. Yang begitu dekat. Yang gemar memberi. Tapi, saya tidak pernah menerima sesuatu berlebihan. Hanya secukupnya. Hanya sebanyak yang saya perlu.

Setelah ini, saya belum tahu mau berjalan ke arah mana, mau melakukan apa. Saya “hanya” berjalan seiring angin. Menjalani hidup seperti yang banyak orang katakan, “go with the flow”. Tapi percayalah, menjalani istilah itu tidaklah semudah mengucapkannya. Tapi hidup bukan juga mencari mudah, hidup adalah untuk menjadi hidup.

Jadi kalau sekarang ada yang bertanya saya sibuk mengerjakan apa, saya akan menjawab:

“I am busy living.”

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

18 Comments

  1. ah, saya jadi teringat. beberapa tahun silam saya memutuskan hal serupa. dan seorang teman mengucapkan “selamat datang di kehidupan” sambil memberi saya selinting mj dan sebotol pilsner. :))

    Reply
  2. waaw.. salut saya sama mba. :).. Hal yang sampai saat ini belum bisa saya lakukan. sama seperti mba, saya pun ingin merasa benar benar hidup, bukan hanya hidup untuk bekerja. saya ingin lepas dari kantor, mengejar passion saya, hal hal luar biasa di luar sana yang belum prnh saya lakukan. bertualang mengelilingi nusantara, menjadi relawan, penulis dan menjadi pendongeng untuk anak anak. bedanya saya ingin melakukan hal hal itu dengan bahagia :) .. salam kenal mba..

    Reply
  3. Tulisanna mba akid ngena banget… kebetulan lagi “nganggur” juga selama kurleb 5 bln dan masih berusaha mengejar passion… abis baca ini jadi lebih semangat lagi.. tengkyu ya mba hehehe..

    Reply
  4. Endi

    Salutt sama mba akid, tulisannya keren bgt… Gua jadi semangat karena sekarang gua lagi menjali hal yang sama. Bekerja untuk Hidup !

    Reply
  5. duuh kak akid (mulai hari ini nggak mau manggil mbak lagi ya Kid)
    ini tulisan bikin hati saya kebat kebit. I`m busy for living, and everyday is holiday.. huaaa tulisanmu meracuni hatiku Kak Akid :D

    Reply
  6. sandi

    entah kenapa bisa nyasar kesini hahaha.
    tapi setelah baca tulisannya mantap sekali mba.. sukses selalu dan semakin menginspirasi hehehe

    Reply

Leave a Reply to benin6 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *