Menjadi Bebek di Kandang Ayam

 

It’s probably, not until you’re leaving out of your comfort zone, you know how it feels to survive a life.

Menjadi seekor anak bebek yang terlahir di keluarga bebek, di dalam kandang bebek, di sebuah peternakan bebek, menurut saya adalah kehidupan yang relatif mudah untuk dijalani. Dan kemudahan seperti ini, akan cenderung membangun perasaan ‘aman’.

Tanpa sadar, perasaan tidak pernah merasa ‘terancam’ dan akan selalu mendapat dukungan dari lingkungan sekitar adalah kondisi yang seringkali being taken for granted or abused. Mungkin akan beda ceritanya jika seekor anak bebek itu, dipindahkan ke kandang ayam.

Jika membahas tentang manusia, adalah sebuah kewajaran, ketika manusia memilih hidup berkelompok dan berkoloni dengan manusia lain yang memiliki persamaan dan/atau memiliki kecenderungan untuk lebih dekat dan akrab dengan manusia lain yang sependapat.

Yang tidak wajar adalah jika kelompok ini, karena memiliki populasi yang (jauh) lebih banyak dibanding kelompok lain, merasa menjadi lebih benar daripada manusia lainnya (dalam aspek apapun). Lantas semata-mata karena menang jumlah, merasa punya hak untuk menjadi penentu kehidupan manusia lain yang tidak sekoloni dengan mereka. Atau lebih parahnya lagi, memaksa yang lain untuk menyamakan diri dengan mereka.

Kembali ke kalimat awal pada tulisan ini, sebagai perempuan yang tumbuh besar menjadi bagian dari kelompok mayoritas, saya (juga pernah) merasakan ketentraman perasaan yang kadang menjadi bumerang dan membuat saya jadi jemawa dan sok.

Namun saya bersyukur, saya punya kesempatan untuk melakukan perjalanan keluar dari comfort zone sosial saya, pergi ke tempat-tempat di mana saya menjelma sebagai bagian dari kelompok minoritas. Pada berbagai kesempatan, instead of direndahkan atau dipersulit, saya justru menerima banyak kebaikan dari mereka yang ‘berbeda’ dengan saya.

Dari mereka pula, sedikit banyak pola pikir saya menjadi lebih terbuka dan manusiawi. Saya belajar banyak untuk menjadi toleran dan fleksibel. Dan saya kian paham, kemudahan hidup yang saya sebut-sebut di atas bisa saja berubah 180 derajat dalam sekejap. Jika tidak belajar menjadi lentur, mungkin saya akan ‘patah’.

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Leave a Reply