Mumble, Wordplay

Saya mulai menghafal kebiasaannya.

Sebelum matahari terbit…

Dia terjaga dari mimpi yang biasanya langsung dia lupakan saat itu juga. Menyapa dirinya sendiri dari cermin sambil merapikan rambutnya yang berantakan sekadarnya pakai tangan. Berjalan ke dapurnya yang mungil untuk menjerang air dan menyeduh satu setengah sendok kopi hitam, tanpa gula. Membawanya ke depan jendela tempat dia menunggu matahari terbit. Lalu diam mendengarkan musik akustik yang memenuhi seluruh ruangan. Dia suka uring-uringan kalau salah satu dari rangkaian kebiasaannya itu terlewatkan. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Wordplay

Minggu pagi. Langit masih muram sebab hujan belum menunjukkan tanda akan berhenti dari semalam. Lilac mengerlingkan matanya ke arah dinding bertekstur bata merah di sisi kanannya. Baru pukul sembilan.

Diaduknya perlahan secangkir hangat teh melati yang wanginya bersaing dengan roti panggang untuk menguasai ruangan. Kemudian ditariknya satu dari dua kursi yang semula berhadapan hanya terpisah meja makan di dapur kecil miliknya, tepat ke depan jendela.

Lilac sangat suka duduk berlama-lama menatapi bulir-bulir hujan membasahi kaca yang di depannya terdapat sederet pot-pot bunga aneka warna yang ditanamnya. Saat hujan deras sampai dingin membuat kaca-kaca jendelanya berembun, Lilac mengambil sumpit dari ujung meja, dan menulis sebaris pendek puisi di situ. Puisi yang selalu hanya untuk satu orang. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble, Seriously Serious Thoughts

Seradikal apa hidupmu pernah berubah?

Pernahkah kamu merasa semua sudah lengkap tapi tidak tersusun tepat pada tempatnya?

Saya pernah, dan ini sebuah catatan hidup saya.

Pada akhirnya, pada sebuah titik, saya memutuskan untuk mengubah apa yang telah ada. Sebelum saya merasa terjebak di sana, selamanya. Mudah? Sama sekali tidak.

Kehilangan yang terlalu banyak untuk saya tanggung dalam waktu yang bersamaan. Hubungan enam tahun saya, teman-teman, dan hal yang mungkin selama sekian lama berani saya sebut sebagai kenyamanan.

Seperti layaknya patah tulang yang coba diluruskan oleh ahli pemijatan. Saya pernah menjerit sekerasnya. Menangis sampai air mata habis sampai pada titik yang saya sadari sebagai titik normal kaki saya. Pada titik saya mulai bisa berjalan dengan baik, tanpa merasai kesakitan dari apa yang telah saya lepaskan.

Move on? Entahlah. Tapi saya mulai merasa baik-baik saja.

~ Juli, 2012

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Footprint, Mumble

Untuk urusan traveling, sebenarnya saya adalah orang yang cenderung sangat terencana. Sebelum keberangkatan, ke manapun itu, biasanya saya sudah mempersiapkan semua hal secara matang. Saya harus tahu tempat-tempat yang mau saya tuju, di mana akan menginap, naik apa ke sananya, dan hal-hal lain selengkap mungkin.

Kenapa? Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble

Pada suatu pagi di sebuah rumah di Kabanjahe, Sumatera Utara. Ada Akid, beberapa orang abang-abang, segelas kopi yang kemasukan lalat, dan percakapan absurd.

Menurut para abang, reaksi seseorang atas kopi yang kemasukan lalat itu menunjukkan tingkat pendidikannya.

Konon, dulu, ada tiga kali penelitian atas lalat yang jatuh ke dalam gelas kopi:

  1. Ketika lalat jatuh ke dalam gelas kopi, semuanya dibuang. Baik kopi, maupun lalatnya. Peneliti yang ini, kemudian dianggap lulus S1.
  2. Ketika lalat yang jatuh ke dalam gelas kopi, kemudian lalatnya dibuang dan kopinya diminum lagi, maka penelitian ini memasuki level kelulusan S2.
  3. Ketika kopinya dibuang dan lalatnya dimakan, maka ini sudah mencapai level S3.

Maka ketika kopi saya kemasukan lalat tadi pagi, para abang menyarankan saya untuk langsung ambil S3.

Tamat.

Kabanjahe, 13 September 2014.

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr