tentang jilbab

Lagi-lagi tulisan ini mungkin diawali dengan sebuah pertanyaan dari teman:

Kenapa kamu memutuskan pakai jilbab?

Saya ingat. Dulu rasanya banyak sekali pertimbangan dan keraguan untuk pakai jilbab. Yang paling bikin ragu adalah the one million dollar question: “Apa saya sudah cukup baik untuk memakainya?” Karena paradigma lingkungan saya, kebetulan masih sangat kental dengan pemukulrataan perempuan berjilbab pasti baik dan santun. Apalagi dulu (sampai sekarang juga sih), saya orang yang cenderung agak pecicilan. (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

momen melepas

jadi, tadi saya nggak sengaja terjebak percakapan dengan teman, topiknya, “kenapa pacaran bertahun-tahun bisa putus?”.

jangan deh dijawab klise, “ya kenapa nggak bisa?” basi!

seperti biasa, muncullah jawaban diplomatis nan teoritis dari saya, seperti ini: (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

kesempatan

Tiba-tiba saya teringat sebuah kutipan yang populer:

Kesempatan tak datang dua kali.

Mungkin benar. Mungkin juga tidak. Kita bukan pemegang kitab catatan takdir. Tak tahu juga barangkali kelak Tuhan berbaik hati memberi dua kesempatan yang sama –atau mungkin lebih– dalam takdir kita.

Terlepas dari itu, menurut saya, tak setiap kesempatan haruslah diambil. Bahkan meskipun kita tahu, kecil sekali kesempatan itu akan terulang lagi. Tentu saja, penyesalan adalah resiko yang kemungkinan besar menyusul sesudahnya. Tapi saya punya keyakinan, Tuhan telah menyiapkan kesempatan lain untuk menggantikan kesempatan yang tidak kita ambil.

pohon keputusanSaya selalu membayangkan hidup saya seperti sebuah bagan besar, pohon keputusan. Setiap kecil keputusan yang saya ambil, berantai dan berpengaruh ke cabang di bawahnya, dan seterusnya.

Jadi buat saya, betul mungkin, kesempatan (yang sama) tidak datang dua kali. Tapi kesempatan lain (yang mungkin jauh lebih baik), selalu mengikuti keputusan kita untuk tidak mengambil kesempatan yang pertama.

(img courtesy of: thesonofdevil.wordpress.com)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

wisuda

sebuah perjuangan, pada akhirnya akan mencapai titik akhir; kalah atau menang

Anggap sajalah lima tahun kuliah (kurangi satu tahun cuti) adalah perjuangan, dan wisuda; proses akhir kelulusan adalah kemenangan. Ada kelegaan ketika akhirnya bisa mengatakan, “akhirnya”. Sebuah gelar, telah (dipandang) layak ditambahkan di belakang nama saya saat ini.

Bukan lulusan terbaik, nilai IPK pun tak mencapai cumlaude, tapi memang bukan itu tujuan saya kuliah. Tunggu, tujuan kuliah? Memutar ulang rekaman ingatan lima tahun lalu. Tujuan kuliah saya, apa ya?

Kalau boleh jujur, saya tak belajar banyak saat kuliah. Pendidikan saya sebelumnya adalah SMK dengan jurusan yang sama dengan jurusan kuliah saya (pada akhirnya), sehingga banyak sekali rasanya materi yang seperti diulang. Jadi, kalau diingat lagi, mungkin tujuan kuliah saya, memang hanya sesederhana mendapatkan gelar sarjana. Titik.

Bukan rahasia lagi bahwa dunia kerja pada umumnya, di negeri ini pada khususnya, seringkali masih mempertanyakan pendidikan terakhir dan gelar. Baru kemudian kemampuan dan kompetensi ada di urutan berikutnya. Meskipun, tentu saja, selalu ada pengecualian.

Beruntunglah saya termasuk satu dari orang-orang yang mendapatkan pengecualian tersebut. Bahwa saya dapat bekerja sejak jauh sebelum sarjana, dengan penghasilan yang cukup layak untuk hidup, makan dan membiayai kuliah saya sendiri. Meskipun (lagi) ternyata jenjang pendidikan masih berpengaruh pada peningkatan karir.

Padahal, tentang apakah setelah wisuda dan sarjana karir saya akan meningkat atau tidak, siapapun tak bisa menjaminnya, bukan?

Kenapa topiknya mendadak berat? Ya sudahlah, intinya saya sudah memenangkan perjuangan ini.
*tsah* *lempar topi*

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

menjadi waras

Tidak ada sesuatu yang mutlak di dunia ini. Kebenaran atau kesalahannya.

Setidaknya itu yang saya tanamkan pada diri saya sendiri.

Belakangan, saya mengamati banyak sekali seseorang yang melakukan hal-hal untuk membela sesuatu yang dianggapnya benar. Saya tidak merujuk kepada sebuah peristiwa tertentu, tapi memaparkan ini secara umum.

Fanatisme.

Untunglah (atau justru tidak untung), saya sejauh ini belum pernah mengalaminya. Terhadap sesuatu, seseorang, atau apapun. Bahkan, percayakah kalau saya bilang saya tidak punya idola?

Saya cenderung berjalan di tengah, tidak terlalu ke kanan, ataupun ke kiri. Penting itu untuk kewarasan jiwa saya.

Sementara yang saya lihat, ada saja yang mengagungkan sesuatu hal, sampai mengabaikan yang tak baik tentangnya. Segala yang berhubungan dengan hal itu, dianggap baik, dianggap benar, mengesampingkan yang buruk tentangnya.

Lebih jauh lagi, siapapun yang tak sependapat dengannya; tak menyukai hal itu, langsung saja diletakkan di posisi yang berseberangan; dianggap musuh. Ada juga kejadian, jika ada yang mengusik sesuatu atau seseorang yang diidolakan, yang bereaksi jauh lebih dulu adalah  para pencintanya, bukan sesuatu itu sendiri.

Berpikir subyektif.

Nah ini lagi yang sering terjadi. Ketika sesuatu dilihat dari siapa yang melakukan, bukan apa yang dilakukan. Ketika seseorang yang disuka melakukan atau membuat sesuatu, segera saja dipuja-puji. Sementara jika yang tak disuka yang melakukan sesuatu yang baik, ada saja alasan untuk menyudutkannya, hanya karena ketidaksukaannya.

Waras.

Sebut saya aneh atau apapun! Saya cenderung melihat sesuatu yang beda dari yang diperbincangkan orang-orang. Sesuatu yang dielu-elukan, saya cari jeleknya. Yang disudut-sudutkan, saya cari lurusnya; baiknya. Bukan untuk apa-apa, bukan untuk ditunjukkan kepada siapa-siapa juga. Hanya demi kewarasan saya sendiri. Mengetahui keburukan maupun kebaikan dari setiap hal dan menerimanya adalah inti.

Kamu fanatik terhadap sesuatu atau seseorang? Buka mata lebih lebar. Setidaknya, jadilah obyektif dalam menilai segala hal.

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

1 14 15 16 17 18 40