Footprint

Setelah perjalanan ramai-ramai bertujuh ke Singapura bulan lalu, bulan ini tim jalan-jalan cuma berdua aja. Kami menuju bandara Soekarno-Hatta dalam cuaca dan arus lalu lintas Jakarta yang nggak bersahabat. Tiba di bandara pukul 15.45, satu jam sebelum flight kami menuju Bangkok.

Dalam setiap perjalanan, saya membiasakan diri untuk web check-in dulu dan menerapkan prinsip traveling light untuk menghemat waktu, termasuk kali ini. Apa hubungannya traveling light dengan menghemat waktu? Selain mengurangi keribetan sepanjang jalan akibat narik-narik koper dan barang bawaan lainnya yang otomatis akan memperlambat gerak dan memakan waktu, beberapa kali saya alhamdulillah diizinin masuk ke pesawat ketika “terpaksa” telat tiba di bandara, karena saya nggak membawa barang yang perlu masuk bagasi, cuma satu ransel yang bisa masuk kabin pesawat. Mungkin kalau saya perlu drop bagasi, ceritanya akan lain lagi. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Footprint

There’s always a first time for everything.
So, it was the very first time for me visiting Singapore, the country next door. I was leaving Jakarta by Air Asia earliest flight at 5.40 am. Really, I woke up at 3.00, got prepared, and heading to Soekarno-Hatta airport at 3.30.

Safely landed at Terminal 1 Changi Airport at sometimes around 7.30, Singapore time, which is an hour ahead than Jakarta. Got my M1 card activated before roaming tariff drains my purse, and then leaving for The Sleepy Kiwi at Bussorah Street to got myself checked in. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble, Seriously Serious Thoughts

jadi, tadi saya nggak sengaja terjebak percakapan dengan teman, topiknya, “kenapa pacaran bertahun-tahun bisa putus?”.

jangan deh dijawab klise, “ya kenapa nggak bisa?” basi!

seperti biasa, muncullah jawaban diplomatis nan teoritis dari saya, seperti ini: Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Seriously Serious Thoughts

Tiba-tiba saya teringat sebuah kutipan yang populer:

Kesempatan tak datang dua kali.

Mungkin benar. Mungkin juga tidak. Kita bukan pemegang kitab catatan takdir. Tak tahu juga barangkali kelak Tuhan berbaik hati memberi dua kesempatan yang sama –atau mungkin lebih– dalam takdir kita.

Terlepas dari itu, menurut saya, tak setiap kesempatan haruslah diambil. Bahkan meskipun kita tahu, kecil sekali kesempatan itu akan terulang lagi. Tentu saja, penyesalan adalah resiko yang kemungkinan besar menyusul sesudahnya. Tapi saya punya keyakinan, Tuhan telah menyiapkan kesempatan lain untuk menggantikan kesempatan yang tidak kita ambil.

pohon keputusanSaya selalu membayangkan hidup saya seperti sebuah bagan besar, pohon keputusan. Setiap kecil keputusan yang saya ambil, berantai dan berpengaruh ke cabang di bawahnya, dan seterusnya.

Jadi buat saya, betul mungkin, kesempatan (yang sama) tidak datang dua kali. Tapi kesempatan lain (yang mungkin jauh lebih baik), selalu mengikuti keputusan kita untuk tidak mengambil kesempatan yang pertama.

(img courtesy of: thesonofdevil.wordpress.com)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble

sebuah perjuangan, pada akhirnya akan mencapai titik akhir; kalah atau menang

Anggap sajalah lima tahun kuliah (kurangi satu tahun cuti) adalah perjuangan, dan wisuda; proses akhir kelulusan adalah kemenangan. Ada kelegaan ketika akhirnya bisa mengatakan, “akhirnya”. Sebuah gelar, telah (dipandang) layak ditambahkan di belakang nama saya saat ini.

Bukan lulusan terbaik, nilai IPK pun tak mencapai cumlaude, tapi memang bukan itu tujuan saya kuliah. Tunggu, tujuan kuliah? Memutar ulang rekaman ingatan lima tahun lalu. Tujuan kuliah saya, apa ya?

Kalau boleh jujur, saya tak belajar banyak saat kuliah. Pendidikan saya sebelumnya adalah SMK dengan jurusan yang sama dengan jurusan kuliah saya (pada akhirnya), sehingga banyak sekali rasanya materi yang seperti diulang. Jadi, kalau diingat lagi, mungkin tujuan kuliah saya, memang hanya sesederhana mendapatkan gelar sarjana. Titik.

Bukan rahasia lagi bahwa dunia kerja pada umumnya, di negeri ini pada khususnya, seringkali masih mempertanyakan pendidikan terakhir dan gelar. Baru kemudian kemampuan dan kompetensi ada di urutan berikutnya. Meskipun, tentu saja, selalu ada pengecualian.

Beruntunglah saya termasuk satu dari orang-orang yang mendapatkan pengecualian tersebut. Bahwa saya dapat bekerja sejak jauh sebelum sarjana, dengan penghasilan yang cukup layak untuk hidup, makan dan membiayai kuliah saya sendiri. Meskipun (lagi) ternyata jenjang pendidikan masih berpengaruh pada peningkatan karir.

Padahal, tentang apakah setelah wisuda dan sarjana karir saya akan meningkat atau tidak, siapapun tak bisa menjaminnya, bukan?

Kenapa topiknya mendadak berat? Ya sudahlah, intinya saya sudah memenangkan perjuangan ini.
*tsah* *lempar topi*

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr