Wordplay

Wangi kamboja kesukaanku. Familiar, seperti di kamar. Tapi bukan! Sebab orang-orang berbaju hitam, sisa gerimis, dan pohon kamboja sungguhan, perlahan tertangkap dari kedua kelopak mataku yang berat sekali terbuka. Dingin tanah menyergap ujung kakiku.

Ini pemakaman Ayah! Isak tangisku mendesak keluar. Sepasang tangan mengusap lembut rambutku, berusaha menenangkan. “Satia…” suara Bunda menarik sempurna ketidaksadaranku. Ranti, kakak perempuanku menyodorkan segelas air putih. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
The Life of a Freelancer

Mumpung sedang (dan masih) hangat dan saya masih ingat!

Kemarin saya habis minta bantuan teman yang kerja di kantor pajak buat bantu menghitung pajak untuk freelancer, terutama untuk saya, jadi sekarang saya mau share inti percakapan kami.

Disclaimer: saya bukan ahli pajak, ya. Ini saya cuma share spesifik kasus saya dan yang saya tau aja. Jadi saya mohon dengan sangat, jangan ada konsultasi perpajakan di antara kita nantinya. Jika Anda bingung, silakan hubungi Kring Pajak (1 500 200) atau mention Taxmin tersayang.

Pertama-tama, yang ditanyakan oleh teman saya adalah jenis pekerjaan yang saya lakukan. Nah, pada intinya, kerjaan saya saat ini terbagi dalam 2 sub besar, yaitu menulis dan menerjemahkan. Dari kategori itu akan ketahuan Norma Penghitungan Penghasilan Neto yang berlaku. Norma ini apa sih? Intinya ini adalah patokan nilai penghasilan bersih yang nantinya akan dipakai buat dasar penghitungan pajak. *betul begitu bukan, Taxmin?* Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
The Life of a Freelancer

Sebuah mukadimah~
*halah*

Jadi ceritanya, saya sempat bikin tweet berseri tentang serba-serbi menjadi seorang pekerja lepas, alias freelancer, yang mana thread-nya jadi ramai sekali dan ternyata banyak yang antusias. Atas dasar itu, saya rencananya akan membuat blog post berseri juga untuk membahas hidup seorang freelancer (a.k.a naishakid) secara lebih panjang dan komprehensif di blog saya ini. Ke depannya, silakan ikuti kategori “The Life of a Freelancer” atau tag “#freelance101“.

Sebelumnya, mohon jangan dikritisi ya, cara penulisan saya yang semi bercanda, campur-campur bahasa Indonesia dan bahasa Inggris (InsyaAllah ga akan ada bahasa Timbuktu, karena saya ga ngerti), dan juga jika ada typo yang tidak disengaja (maupun yang disengaja). Hal-hal tersebut dalam rangka agar blog post ini terasa tidak seperti artikel ilmiah dan serius banget (kalo terlalu serius, nanti nikah lho(?)). Mohon diambil hikmahnya saja.

Oh ya, saya nulisnya topiknya ngacak, ya. Dalam artian, ga pakai kerangka terstruktur dan silabus yang benar. Pokoknya lihat gimana mood saya aja mau nulis apa. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Seriously Serious Thoughts

Jika kamu seberuntung saya, lahir dan tumbuh besar, atau minimal tinggal cukup lama di negeri semajemuk Indonesia ini, saya (hampir) yakin kamu juga seberuntung saya yang punya teman, teman baik, sahabat, atau bahkan saudara yang ‘berbeda’ SARA-nya. Entah itu sekadar berbeda suku, agama, ras, atau kalau beruntung sekali, malah kombinasi semuanya.

Tapi jika ternyata, entah gimana caranya, kamu nggak seberuntung saya? Sudah. Nggak perlu dibaca lanjutan dari tulisan ini, karena nggak akan relevan buatmu. Tapi dibaca aja juga nggak papa. Siapa tahu sesudah baca, kamu jadi tertarik punya teman yang nggak selingkup aja. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Seriously Serious Thoughts

Dulu, saya masih gampang sekali menemui orang yang saat terjadi hal negatif padanya, seringkali orang itu masih berusaha melihat sisi positif dari peristiwa tersebut.

Misalnya, saat kecelakaan dan tangan kanannya patah, dia akan berpikir, “untung cuma tangan kanan, nggak dua-duanya”. Atau jika kedua tangannya patah, dia masih bisa berpikir, “untung cuma dua tangan, kaki masih sehat”. Bahkan jika tangan dan kaki patah, dia masih bisa mikir, “untung cuma tangan sama kaki, badan nggak lumpuh”. Begitu terus, berusaha mencari hal bagus apa yang masih tersisa untuk disyukuri. Mungkin dia nggak akan berhenti berusaha berpikir positif, kecuali dia sudah sama sekali tidak bisa berpikir atau mati. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr