The Life of a Freelancer

Sebuah mukadimah~
*halah*

Jadi ceritanya, saya sempat bikin tweet berseri tentang serba-serbi menjadi seorang pekerja lepas, alias freelancer, yang mana thread-nya jadi ramai sekali dan ternyata banyak yang antusias. Atas dasar itu, saya rencananya akan membuat blog post berseri juga untuk membahas hidup seorang freelancer (a.k.a naishakid) secara lebih panjang dan komprehensif di blog saya ini. Ke depannya, silakan ikuti kategori “The Life of a Freelancer” atau tag “#freelance101“.

Sebelumnya, mohon jangan dikritisi ya, cara penulisan saya yang semi bercanda, campur-campur bahasa Indonesia dan bahasa Inggris (InsyaAllah ga akan ada bahasa Timbuktu, karena saya ga ngerti), dan juga jika ada typo yang tidak disengaja (maupun yang disengaja). Hal-hal tersebut dalam rangka agar blog post ini terasa tidak seperti artikel ilmiah dan serius banget (kalo terlalu serius, nanti nikah lho(?)). Mohon diambil hikmahnya saja.

Oh ya, saya nulisnya topiknya ngacak, ya. Dalam artian, ga pakai kerangka terstruktur dan silabus yang benar. Pokoknya lihat gimana mood saya aja mau nulis apa. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Seriously Serious Thoughts

Jika kamu seberuntung saya, lahir dan tumbuh besar, atau minimal tinggal cukup lama di negeri semajemuk Indonesia ini, saya (hampir) yakin kamu juga seberuntung saya yang punya teman, teman baik, sahabat, atau bahkan saudara yang ‘berbeda’ SARA-nya. Entah itu sekadar berbeda suku, agama, ras, atau kalau beruntung sekali, malah kombinasi semuanya.

Tapi jika ternyata, entah gimana caranya, kamu nggak seberuntung saya? Sudah. Nggak perlu dibaca lanjutan dari tulisan ini, karena nggak akan relevan buatmu. Tapi dibaca aja juga nggak papa. Siapa tahu sesudah baca, kamu jadi tertarik punya teman yang nggak selingkup aja. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Seriously Serious Thoughts

Dulu, saya masih gampang sekali menemui orang yang saat terjadi hal negatif padanya, seringkali orang itu masih berusaha melihat sisi positif dari peristiwa tersebut.

Misalnya, saat kecelakaan dan tangan kanannya patah, dia akan berpikir, “untung cuma tangan kanan, nggak dua-duanya”. Atau jika kedua tangannya patah, dia masih bisa berpikir, “untung cuma dua tangan, kaki masih sehat”. Bahkan jika tangan dan kaki patah, dia masih bisa mikir, “untung cuma tangan sama kaki, badan nggak lumpuh”. Begitu terus, berusaha mencari hal bagus apa yang masih tersisa untuk disyukuri. Mungkin dia nggak akan berhenti berusaha berpikir positif, kecuali dia sudah sama sekali tidak bisa berpikir atau mati. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Seriously Serious Thoughts

Pagi tadi saya baca sebuah tulisan pendek yang tersebar secara viral, yang konon adalah pesan dari Anies Baswedan sebelum lengser dari Menteri Pendidikan. Tulisan itu memicu saya untuk menulis sesuatu yang mungkin bisa jadi sekuel dari tulisan saya sebelumnya, “Anak-anakmu Bukanlah Anak-anakmu“.

Saya nggak akan membahas lebih detail mengenai pola asuh. Pertama, tentu saja kurang pengalaman (umn…), kedua, karena saya nggak punya cukup data buat nulis panjang. Jadi, lagi-lagi, ini adalah tulisan berdasarkan pengalaman (dan semi curhat). Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Footprint, Seriously Serious Thoughts

Earlier this year, when I was travelling to Da Lat, Vietnam, I got a travel mate. A guy from the US who was posted an open message in Couchsurfing, said he’ll be heading to Da Lat and will be staying there for exactly the same period with what I was planned, with a blank agenda and up to anything that might interesting, pretty much matched my mood at that time. He was tired of doing touristy thingy (too).

So we decided to meet and form something that we can call a plan. I arrived couple hours earlier than him. He wasn’t there until midday, and I was (this is serious) not in the mood of exploring the town (as a tourist), and the (supposed to be sleepy and laid back) town itself was crowded and packed with people because it was Lunar New Year, and it seemed like everyone in Vietnam was in Da Lat. So I waited him in a quite lovely coffee shop called Urban Coffee, and got some works done. Yea, you read it right. Works. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr