Seriously Serious Thoughts

Positif – Negatif

Dulu, saya masih gampang sekali menemui orang yang saat terjadi hal negatif padanya, seringkali orang itu masih berusaha melihat sisi positif dari peristiwa tersebut.

Misalnya, saat kecelakaan dan tangan kanannya patah, dia akan berpikir, “untung cuma tangan kanan, nggak dua-duanya”. Atau jika kedua tangannya patah, dia masih bisa berpikir, “untung cuma dua tangan, kaki masih sehat”. Bahkan jika tangan dan kaki patah, dia masih bisa mikir, “untung cuma tangan sama kaki, badan nggak lumpuh”. Begitu terus, berusaha mencari hal bagus apa yang masih tersisa untuk disyukuri. Mungkin dia nggak akan berhenti berusaha berpikir positif, kecuali dia sudah sama sekali tidak bisa berpikir atau mati.

Tapi sekarang, fenomena yang saya lihat, banyak sekali orang-orang yang malah berusaha terus menerus menemukan hal negatif. Lebih spesifiknya lagi, mencari-cari perbedaan, di mana perbedaan itu dipakai untuk bahan berpikir negatif dan membenci orang lain yang tak sama.

Misalnya, saat bertemu sesama manusia, dia berpikir, “sama-sama manusia sih, tapi warna kulitnya kan beda”. Saat ketemu yang kulitnya sama, dia berpikir, “meskipun sama warna kulit, tapi dia beda negara sama aku”. Saat bertemu orang senegara, dia berpikir, “satu negara sih, tapi kan kami beda suku”. Dengan orang sesuku, masih aja mikir, “satu suku sih satu suku, tapi sorry ya, kami ga menyembah Tuhan yang sama”.

The list could go on. Forever.

Sekolahnya beda.

Bahasanya beda.

Level jabatannya beda.

Klub bola favoritnya beda.

Pandangan politiknya beda.

Aku suka singkong, dia suka keju.

Aku suka jaipong, dia suka disko.

~

Begitu saja terus. Sampai-sampai lupa. Bahwa jika semua atribut dilepas, pada awalnya kita HANYALAH sama-sama manusia.

Sudah. Saya sedih.

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

2 Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *