Tentang Perempuan dan Kopi

Saya mulai menghafal kebiasaannya.

Sebelum matahari terbit…

Dia terjaga dari mimpi yang biasanya langsung dia lupakan saat itu juga. Menyapa dirinya sendiri dari cermin sambil merapikan rambutnya yang berantakan sekadarnya pakai tangan. Berjalan ke dapurnya yang mungil untuk menjerang air dan menyeduh satu setengah sendok kopi hitam, tanpa gula. Membawanya ke depan jendela tempat dia menunggu matahari terbit. Lalu diam mendengarkan musik akustik yang memenuhi seluruh ruangan. Dia suka uring-uringan kalau salah satu dari rangkaian kebiasaannya itu terlewatkan.

Nanti saat matahari semakin tinggi…

Mukanya mulai kusut oleh hal apapun yang butuh dia selesaikan. Kepalanya mulai penuh dengan daftar panjang kegiatan yang mencuri waktunya sedikit demi sedikit. Ketika dia sudah tak sanggup lagi, dia akan bersembunyi di sudut kedai, melarutkan satu persatu masalahnya ke dalam secangkir kopi. Lalu dia akan merasa baik-baik saja dan sanggup menghadapi dunia.

Senja menyapa…

Di mana pun dia saat itu berada, dia akan meluangkan beberapa menit waktunya untuk menikmati secangkir lagi kopi, tapi biasanya bukan kopi hitam. Kata dia, senja yang manis harus dirayakan dengan kopi-kopi yang cantik, semacam latte atau cappuccino atau minimal kopi susu. Dia memang suka mengada-ada dan memanipulasi suasana supaya seperti puisi. Menurut dia, senja itu salah satu peristiwa paling puitis sepanjang hari.

Di akhir malam…

Sekali lagi, tangannya menggenggam secangkir pekat kopi. Biasanya, dia sudah duduk di antara tumpukan buku-buku yang menunggu dibaca. Lalu, dia mengambil satu untuk dibuka bersamaan dengan sesapan pertama kopinya. Dia akan bertahan duduk di tempat yang sama, di sudut favorit di rumahnya, sampai salah satu habis, entah lembar-lembar bukunya, entah kopinya.

Lalu menjelang tidur….

Dia mengucapkan selamat malam kepada bayangannya di cermin setelah bertanya, “Hari ini, berapa gelas kopi?” kemudian tertawa sambil menyusup ke balik hangatnya selimut, berterima kasih kepada Tuhan sambil berharap besok pagi dia bisa bangun lebih dini supaya punya lebih banyak waktu untuk duduk diam menghirupi wangi kopi.

~

Saya mulai menghafal kebiasaannya, perempuan yang menulis ini.

http://www.facebook.com/naishakid http://www.twitter.com/naishakid

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Leave a Reply