Terima kasih, sudah menunggu

Kepada Tuan yang duduk di tepi jendela.

Kepada Tuan yang duduk di tepi jendela.

Kepada Tuan yang duduk di tepi jendela.

Apa saya pernah bercerita kepada Anda tentang semesta yang menata kebetulan demi kebetulan di hidup saya menjadi serangkaian panjang kesengajaan?

Ah! Sepertinya belum, ya, Tuan?

Bagaimana mungkin pernah, kalau waktu-waktu temu lebih banyak kita habiskan dalam percakapan-percakapan diam?

Saya bahkan masih ingat betul, malam yang kita panjangkan di sebuah meja dengan sisa-sisa kewarasan di kepala. Saya dan Anda sama-sama tidak tahu pasti tentang keributan yang sesungguhnya ada di pikiran masing-masing kita.

Yang saya tahu, Anda memutuskan berpindah dari tepi jendela tempat Anda biasanya mengakrabi secangkir kopi, lalu berpindah ke kursi tepat di depan saya, di sudut kedai yang selalu saya pilih, untuk mengistirahatkan letih yang entah tentang apa.

Saya hanya merasa, Anda juga sedang merasai kegundahan yang sama dengan saya. Saya kerap kali mengamati kepelikan yang sembunyi di balik mata lelah Anda. Kepelikan yang entah mengapa rasanya tidak asing bagi saya.

Oh ya, mari kembali kepada kebetulan yang sementara akan saya ceritakan di sini, sebelum genap keberanian saya menyampaikannya langsung kepada Anda.

~

Tuan, apa Anda pernah merasakan pertanda semesta? Apa Anda pernah merasa sesuatu akan terjadi di depan sana? Anda belum sampai di titik itu, tetapi Anda tahu saat itu akan tiba? Apa yang Anda ketahui tentang menahan diri untuk tidak terburu-buru selagi belum tepat waktu? Apa Anda percaya kebetulan hanyalah kesengajaan yang belum kita pahami maknanya?

Tuan, saya sedang merasai semesta menata banyak hal untuk saya. Saya menunggu hal-hal itu tiba. Saya tidak sedang terburu-buru, tetapi sekaligus sedang penasaran setengah mati tentang apa yang akan terjadi.

Tuan, gelisah yang saya bagi ini, sampai di titik ini, saya belum tahu apa hubungannya dengan Anda. Tapi lucunya, saya jadi merasa berkawan. Merasa tak sendirian. Saling peluk dengan pikiran Tuan, diam-diam.

~

Jadi, lain kali, Tuan, tak perlu lagi Anda duduk sendiri di tepi jendela. Duduk saja di depan saya, menikmati sendiri bersama saya. Meski mungkin perlu puluhan kali temu, sampai kebetulan entah mana menata kata-kata sendiri dan tiba kepada kita.

Sementara ini, terima kasih, sudah menemani saya menunggu.

~

Bob Dylan:
Ev’rything is always right
When I’m alone with you

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Leave a Reply