Mumble

Pasca rawat inap di rumah sakit selama dua bulan kemarin, salah satu hal yang pertama-tama saya lakukan adalah ngurusin klaim asuransi.

Sebelum keluar rumah sakit, saya udah DM-an sama admin akun Twitter Cigna buat nanya-nanya syarat dan proses klaim. Surprisingly, adminnya sangat kooperatif dan responsif! *Makasih banyak, Mbak Naila*

Di Cigna, sejak tahun 2010 saya punya tiga polis asuransi. Satu asuransi untuk melindungi risiko kecelakaan dan dua asuransi kesehatan (mencakup rawat inap aja, bukan rawat jalan). Premi per bulannya masing-masing cuma seratus ribuan. Nggak terlalu membebani buat saya yang penghasilan bulanannya nggak jelas. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble

Memasuki bulan keenam di tahun 2019, terjadi sebuah peristiwa yang cukup mengguncang hidup saya dan berlangsung sampai pertengahan bulan Agustus ini. Berawal dari sakit yang kayaknya sepele: ‘cuma’ batuk-batuk, pada akhirnya saya divonis TBC paru-paru dan musti dirawat di rumah sakit selama 2 bulan lebih. Tepatnya 9 minggu.

Buat yang follow saya di Twitter dan termasuk yang penasaran thread saya ini lagi ngitung apaan, jawabannya adalah: menghitung hari-hari saya dirawat di rumah sakit :)))

Kenapa kok sampai dirawat segitu lamanya? Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble

Dirawat selama dua bulan di rumah sakit membuat saya otomatis memindahkan kehidupan ke ruang berukuran 3×4 yang saya tempati. Saya berusaha mengondisikan pikiran dengan menganggap saya sedang “kos sementara” di kamar rumah sakit. Jadi sebisa mungkin tetep ngelakuin kegiatan normal kayak kalo lagi di rumah.

Btw, karena saya ‘cuma’ TBC aja, saya nggak pake diinfus segala. Juga nggak ada pantangan makanan dan minuman apa pun. Jadi saya bebas buat bergerak dan ngapa-ngapain, selama ga keluar ruangan. Huhuhu~ Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble

Saat pertama kali didiagnosa TBC Paru (11 Juni 2019), yang pertama kali kepikiran sama saya adalah, “Di mana saya ketularan penyakit ini?”

Setelah saya runut balik, agak susah menemukan lokasi pastinya. Dari awal 2019 kemarin, saya memang lagi traveling mulu. Februari sampai akhir Maret saya ngider dengan rute UEA – Indonesia – Jepang – Hong Kong – Indonesia – UEA. Di antara rute itu, beberapa kali stay di airport cukup lama (kadang overnight) karena nunggu penerbangan berikutnya.

Saya inget banget, habis dari Jepang (kena winter) pas sampai di Hong Kong kena hujan, saya udah mulai ga enak badan. Rasanya kayak mau gejala flu gitu. Agak demam dan mulai batuk-batuk. Saya pikir wajar lah, mungkin ‘cuma’ kecapekan. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble

Mencicipi Koneksi Internet 4G di Yogyakarta

Sebagai pekerja digital yang setiap hari memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap koneksi internet, saya selalu memastikan ketersediaan paket data yang mumpuni di ponsel saya, sebagai amunisi kalau sewaktu-waktu tidak bisa konek ke jaringan wi-fi atau saat saya sedang mobile.

Saat teknologi 4G pertama-tama diluncurkan secara komersial oleh beberapa operator di Indonesia, saya masih belum tertarik mencoba. Kenapa? Alasan utamanya adalah karena jaringannya masih belum luas. Ditambah, karena efektif mulai dari pertengahan tahun lalu, saya sudah tidak berdomisili di Jakarta lagi. Jadi menurut saya percuma saja ganti kartu 4G kalau belum bisa dipakai maksimal.

Sampai akhirnya minggu lalu, saya dapat undangan untuk ikut uji coba koneksi internet Smartfren 4G LTE Advanced di Yogyakarta tanggal 26 Agustus 2015 kemarin. Sounds interesting! Kesempatan saya buat mencicipi koneksi yang konon kecepatannya se-ngebut Valentino Rossi *dan mencobanya bukan di Jakarta* pun terbuka. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr