Alana Series, Footprint

Malioboro: Chapter 2

“Apa kabar dia?” tanya Dio hati-hati.

Lana menghela napas, “Gue rasa, sekarang lo udah nggak berhak tahu lagi tentang Lintang.”

~ Baca Chapter 1

“Lo perlu tahu, Na, gue selalu terjebak di antara keinginan buat tahu kabar Lintang tapi nggak mau denger apa pun yang berhubungan sama lelaki itu, dan sekaligus pengin tahu kabar Lintang karena gue pengin denger kalau mereka nggak baik-baik saja.”

Alana tertegun mendengar pernyataan Dio. Lima menit waktu yang dia butuhkan untuk merangkai kata-kata balasan, tetapi sebelum dia berhasil, Dio melanjutkan kalimatnya.

“Gue salah ya, kalau kepengin dia nggak bahagia sama lelaki pilihannya itu?”Tangan Lana berhenti mengaduk-aduk kopi yang mulai dingin, perlahan dia mengangkat wajahnya, memaksa matanya untuk menatap mata Dio tajam dan menemukan ekspresi yang tak dia percaya, terluka. Lana lantas menghela napas.

“Aloydio, lo nggak bisa berpikir kayak gitu ke Lintang. Asal lo inget aja, ya! Pada suatu waktu, lo adalah lelaki itu. Lelaki yang Lintang pilih.”

Dio membuang pandangannya, tak mau lukanya terbaca. Dia tahu, matanya adalah pengkhianat yang siap membongkar rahasia yang sudah disimpannya beberapa tahun belakangan ini. Matanya tak akan bisa berbohong, terutama di depan Alana, perempuan yang mengenalnya sebaik dirinya sendiri.

“Lo udah pernah dapat kesempatan itu, Dio. Kesempatan yang lo sia-siakan. Now leave them alone. At least for now. Lo nggak punya hak sama sekali untuk ngedoain yang buruk-buruk buat mereka.”

Lana menyelesaikan sisa kopi di gelasnya, lekas sesudah dia menutup kalimatnya dengan penekanan. Kentara sekali dia gerah dengan topik perbincangan ini. Biar bagaimana pun, Lana ke Yogyakarta bukan untuk meladeni curahat hati penuh penyesalan Dio, sekali pun mereka sudah bersahabat belasan tahun.

Jika bukan karena peristiwa jatuh cinta Lintang dan Dio, posisi Lana tidak akan sesulit ini, dan tentu saja, mereka bertiga masih akan bersahabat. Akan lebih mudah bagi Lana jika dia tak mengenal salah satu dari mereka berdua. Sayangnya, nasib justru memilih dialah yang harus menjadi penengahnya.

Adalah Lana yang pada awalnya membaca perbedaan sikap Dio kepada Lintang. Meski mereka nyaris selalu bertiga, tetapi dibanding kepada Lana, Dio kelihatan sedikit memberi perhatian lebih kepada Lintang. Sangat sedikit, karena pandainya Dio membuat perhatiannya tampak senatural mungkin. Bukannya merasa dikhianati, Lana justru adalah pihak yang paling senang melihat hal itu. Terlebih, sesudah dikonfirmasi melalui proses konfrontasi yang panjang, Dio mengaku memang sedikit menaruh perasaan kepada Lintang.

Sementara Lintang, mulanya adalah sosok polos naif yang membaca perhatian Dio kepadanya tidaklah beda dengan kepada Lana. Justru saat Lana dengan semangat memberitahunya, Lintang meragukan dan malah menuduh Lana mengada-ada.

Namun, Lintang akhirnya memahami mengapa seorang Aloydio Pratama selalu mau menjemput dan menemaninya ke mana pun, pukul berapa pun. Dia menggarisbawahi dan menekankan kata “selalu”. Hanya berdua, mereka pernah berkeliling Jakarta dengan bus kota dari pagi hingga malam, mulai dari Blok M, Jatinegara, Pasar Senen sampai Kwitang, gara-gara Lintang harus mencari buku langka untuk referensi tugas kuliahnya.

Di hari ulang tahun Lintang yang ke-23, setahun dari peristiwa Dio membuat pengakuan kepada Lana tentang perasaannya untuk Lintang, sesudah mereka makan malam bertiga untuk merayakannya, Dio mengantar Lintang pulang dan menyelipkan sebuah kado kecil ke dalam tas selempang Lintang. Sebuah kado yang membuat hati Lintang akhirnya memilih Dio, mixtape lagu-lagu yang disiapkan Dio khusus untuk Lintang.

Lalu segalanya berubah menjadi pelik sesudah itu. Saat Lintang yakin bahwa Dio menyimpan rasa untuknya dan memutuskan untuk membalas perasaan itu, justru Dio yang mengubah sikap, perlahan sekali dia mundur, selangkah demi selangkah menjauhi Lintang. Puncaknya, Dio menghilang beberapa bulan setelah menyatakan, ‘tidak bisakah kita tetap seperti ini saja?’ pada Lintang yang bersikeras mengambil inisiatif lebih dahulu untuk membuat kemajuan atas hubungan mereka.

Namun, sejak Dio memutuskan pulang kampung ke Yogyakarta dan meninggalkan Jakarta, Lana sedikit merasa lega karena setidaknya dia jadi punya ruang untuk bernapas di antara perang dingin Dio dan Lintang. Perang dingin yang membuat mereka berdua selalu berusaha tampak normal dan tetap bersahabat di depan Lana, tetapi jika bukan karena Lana, mustahil bagi mereka untuk bercakap tanpa saling menyakiti.

Karena itulah Lana sesungguhnya berharap, singgahnya dia ke Yogyakarta kali ini adalah untuk percakapan-percakapan panjang dengan Dio, yang sama sekali tidak tentang Lintang. Heningnya udara Malioboro di antara mereka akhirnya terpecahkan oleh suara lirih Dio.

“Tapi kamu tahu alasanku, Na. Kamu tahu yang diinginkan Lintang dari aku adalah sesuatu yang tidak bisa aku berikan untuk dia, komitmen.”

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.