Anak-anakmu Bukanlah Anak-anakmu

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu

Hari ini, entah kenapa laptop saya tiba-tiba rusak, dia mogok dan nggak mau nyala. Pas saya kirim ke UGD untuk pertolongan pertama, diagnosanya: kelelahan bekerja. *mimik cairan infus*

Lalu apa hubungan kalimat pembuka di atas dengan judul postingnya? Oke! Oke! Saya bisa jelaskan semuanya!

Jadi, karena peristiwa di atas, saya telepon ibu untuk cerita setengah mengeluh. Cerita yang langsung disambut respon ibu, “Ya udah, bawa ke dokternya, lah! Emangnya ibu bisa bantu?”

Refleks saya tertawa terbahak. Saya lupa. Keluarga kami memang mendidik anak-anaknya untuk bertanggung jawab atas apapun yang dilakukannya, dan jarang terjadi kami saling menceritakan masalah jika bukan untuk mencari solusi. Dalam banyak hal, peran orang tua adalah mendukung dan mengawasi.

Dalam kasus laptop saya, respon ibu adalah respon yang selalu saya dapatkan dari beliau sejak saya kecil. “Kamu tahu, ibu tidak bisa membantu, jadi carilah bantuan dari orang lain yang bisa.” Anak-anak ibu dilatih untuk menyelesaikan masalahnya. Kecuali jika sudah sangat mentok dan mengharuskan orang tua untuk turun tangan.

Kami diajari mengenali masalah dan menganalisa pilihan. Bagaimana setiap kecil keputusan yang kami ambil, datang bersamaan dengan segala risikonya. Jadi jarang sekali, orang tua saya melarang ini itu. Yang mereka lakukan adalah memberi sebanyak mungkin informasi, risiko apa yang sekiranya kami hadapi jika kami melakukan hal segila apapun yang kami lakukan.

Setelah itu? Mereka akan berjalan beberapa langkah di belakang anak-anaknya, untuk mengawasi. Mereka seringkali membiarkan putra-putrinya jatuh, selama mereka tahu, masih bisa berdiri lagi sendiri. Tapi mereka tidak juga jadi terlalu jauh, hingga jika anak-anaknya sungguh butuh, uluran tangan mereka cepat mendekat.

Orang tua saya juga membiasakan anak-anaknya untuk introspeksi. Saya ingat betul, setiap kali saya cerita konflik antara saya dengan siapapun, mereka selalu mencecar saya terlebih dahulu. Mereka akan menanyakan detailnya sehingga mereka tahu posisi saya, salah atau benar. Tidak pernah mereka langsung membutakan mata membela anaknya. Yang ada, justru saya sering disalah-salahkan duluan. Hvft.

Kedengarannya hubungan saya dan orang tua tidak romantis, ya? Seringkali memang tidak, tapi saya mencintai mereka dan saya tidak pernah ragu, cinta mereka kepada saya pun begitu besar. Cinta yang membebaskan.

Dari orang tua saya, saya belajar untuk memahami betul makna kalimat Kahlil Gibran, “Anakmu-anakmu bukanlah anak-anakmu.”

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Leave a Reply