Playing Victim

Victim playing (also known as playing the victim or self-victimization) is the fabrication of victimhood for a variety of reasons such as to justify abuse of others, to manipulate others, a coping strategy or attention seeking. ~ Wikipedia

Saya pernah berbincang dengan seorang sahabat yang menekuni studi psikologi dan membahas tentang kejadian-kejadian bertema ‘playing victim‘ di sekitar kami. Tentu saja, kami mengambil diri kami sendiri sebagai salah satu contoh kasus juga.

Playing victim itu kayak gimana, sih?

Secara umum, dalam sebuah kejadian, biasanya orang yang sedang menempatkan dirinya sebagai korban, akan punya kecenderungan melihat segala sesuatu selain dirinya, bisa jadi orang atau hal lain yang terlibat dalam kejadian itu sebagai ‘pelaku’, sebagai tersangka. Sementara dirinya adalah korban kejadian, yang paling menderita dan perlu dikasihani.

Dalam skala yang lebih menakutkan lagi, hal ini kadang-kadang dimanfaatkan sebagai alat untuk mengontrol dan memanipulasi orang lain. A victim player punya kecenderungan untuk membuat ‘sang pelaku’ merasa bersalah dan melakukan apa yang dia mau. Selain tentu saja, dengan menjadi orang yang tampak perlu dikasihani, dia akan mendapatkan simpati, pembenaran, dan perhatian dari lingkungan sekitar.

Sebagai orang yang tidak punya pendidikan formal di bidang psikologi tetapi suka mengamati manusia dengan segala sifatnya, menurut saya, playing victim adalah salah satu bentuk egoisme. Menjadikan diri sendiri sebagai pusat kebenaran dan kecenderungan menyalahkan hal-hal di luar itu.

Sejauh ini, sepertinya sangat jarang, kalau tidak bisa dibilang tidak ada, orang yang tidak pernah playing victim. Saya dan teman yang mendiskusikan hal ini dengan saya pun pernah, dengan taraf dan cara kami sendiri.

Agak sulit memang, melepaskan diri dari ‘candu’ membenarkan diri sendiri dan melimpahkan kesalahan kepada orang lain, tetapi mengusahakan untuk berhenti adalah sesuatu yang patut dicoba.

Kenapa?

Oke, ini another sotoy-ness of me lagi. Basically, seorang korban (sungguhan) adalah mereka yang tidak berdaya atas apa yang terjadi, ketidakberdayaan ini akan menciptakan ketakutan, dan ketakutan akan menyebabkan ketidakbahagiaan.

Jadi, agak susah rasanya untuk bisa merasakan bahagia, jika terus menerus menempatkan diri sendiri sebagai korban.

I, once tweeted, “in your very own life scenario, you should be the hero, not the victim, so stop playing like one”

~

This is a playing victim article, from a life rookie’s point of view. Feel free to correct me if I’m wrong.

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Leave a Reply