Membaca Pertanda Puisi

Untuk: Tuan Sapardi

Hujan Bulan Juni

Hujan Bulan Juni

Saya membeli sepilihan sajak milik Tuan, Hujan Bulan Juni, beberapa hari yang lalu sebagai kado ulang tahun untuk perempuan kesayangan saya. Sejak saat itu, buku Tuan tak pernah absen dia bawa ke mana-mana.

Tadi malam, dia sedang berbincang di depan kedai kopi bersama dua orang teman ketika hujan tiba-tiba datang, dan dia seketika ingat buku yang penuh hujan di ranselnya. Ditariknya buku itu dan dengan spontan dia bertanya kepada salah satu dari lelaki yang duduk semeja dengannya, “Halaman berapa?”

Perempuan ini sering bermain-main dengan pertanda dan membacai apa-apa yang terjadi di depannya bukan sebagai kebetulan semata. Dia percaya, semesta selalu bicara dan menunjukkan. Dia hanya perlu mendengar dan melihat.

“98,” sebuah jawaban datang sama cepat dengan pertanyaannya keluar.

Halaman 98 dari Hujan Bulan Juni, barangkali Anda lupa, Tuan, ialah anak kata-kata yang Anda beri nama, Metamorfosis.

Perempuan ini membacanya keras-keras. Sebab angin hujan yang meniup-niup punggungnya tak kalah keras. Dia tidak mau kalah.

~

METAMORFOSIS

ada yang sedang menanggalkan pakaianmu satu demi satu,
       mendudukkanmu di depan cermin, dan membuatmu
       bertanya, “tubuh siapakah gerangan yang kukenakan ini?”
ada yang sedang diam-diam menulis riwayat hidupmu,
       menimbang-nimbang hari lahirmu, mereka-reka sebab-sebab
       kematianmu —
ada yang sedang diam-diam berubah menjadi dirimu

(Sapardi Djoko Damono, 1981)

~

Metamorfosis, Hujan Bulan Juni

Metamorfosis, Hujan Bulan Juni

Seusai kata terakhir keluar dari bibirnya, bulu kuduknya meremang, matanya memandang bergantian ke arah kiri dan kanan, ke arah kedua lelaki yang bersamanya berada, untuk menemukan ekspresi ‘tak percaya’ yang sama.

Lalu mereka bertiga pun diam. Dibungkam pertanda entah apa yang dibaca oleh masing-masing pikiran mereka.

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Leave a Reply