Price Tag

What you are?

What are you?

Kemarin saya terlibat percakapan seru yang berawal dari sebuah perkenalan. Seorang teman memperkenalkan saya sebagai “traveler” kepada temannya. Sementara, dia mengenalkan temannya ini sebagai “pendaki”.

Perkenalan yang kemudian menuai sebuah pertanyaan dari salah seorang kenalan (baru juga kenalan kemarin) yang duduk satu lingkaran dengan kami, “Kenapa orang ingin dikenal dan dipanggil sebagai traveler, atau pendaki, atau misalnya anak pantai?”

“Padahal, kadang mereka baru pergi ke satu atau dua tempat saja. Sudah mengaku-aku sebagai traveler,” tambahnya.

Saya diam sebentar, kemudian menjawab, “Tapi, dalam definisi traveler, kan tidak ada ketentuannya berapa banyak tujuan yang sudah dia tuju. Tidak ada persyaratan seberapa jauh dia sudah traveling.”

Saya pribadi sesungguhnya agak kurang menyukai pelabelan manusia, apapun konteksnya. Misalnya, si traveler, si backpacker, si baik, si judes, si ini, si itu. Karena saya percaya, manusia itu sungguhlah kompleks untuk hanya dikhususkan sebagai satu kategori saja.

Makanya saya suka agak malas kalo dibilang anak gunung, karena tujuan perjalanan saya tidak cuma gunung. Saya pergi ke gunung, kalo sedang pengin, ke pantai kalo lagi pengin santai, ke pasar kalo lagi mau belanja, ke toilet kalo lagi pengin pup. *lah*

Ya tapi terserah juga, sih, orang mau menyebut orang lain seperti apa. I was just saying my thought.

Nah, lucunya, setelah menanyakan pertanyaan pertama tentang pelabelan di atas tadi, dia bertanya kepada saya, “Jadi, mbaknya penyuka kopi, penikmat kopi, atau pecinta kopi?”

Saya cuma senyum lalu tanya balik, “Bedanya apa?” Sambil dalam hati membatin, “Double standard, no?”

 

*diketik sambil mendengarkan Price Tag – Jessie J*

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Leave a Reply