naishakid

trying to tell you stories
3 comments

How do you like Myanmar?

It’s impressive!

Saya adalah tipikal orang yang kalo jalan yang diperhatikan adalah peristiwa, orang, budaya lokal, makanan, baru soal tempat wisata mah belakangan.

Kenapa? Karena saya lebih suka mengapresiasi momen ketimbang hal-hal yang udah pasti. Saya percaya, setiap momen itu unik, dan TIDAK AKAN MUNGKIN PERNAH TERULANG LAGI. Konsep momen di kepala saya itu gabungan antara:

  1. Manusia. Siapa saja yang bersama kita ketika momen itu terjadi.
  2. Tempat. Di mana kita berada saat momen itu terjadi.
  3. Waktu. Kapan momen itu terjadi.
  4. Rasa. Apa yang kita rasakan saat momen itu terjadi.

Kombinasi keempat hal itu sifatnya unik. Jadi nggak mungkin akan bisa diulang lagi. Terutama di parameter waktu. So, bisa jadi, kamu ke Jogja berkali-kali tapi ingatan kamu tentang Jogja berubah-ubah. Sekali waktu, kamu ke Jogja bareng keluarga dan merasakan senang misalnya. Bisa jadi lain waktu, kamu sama-sama ke Jogja sih, tapi sendirian, dan pas patah-hati-sepatah-patahnya. *ngerti? kalo nggak ngerti ya udah nggak papa.*

Oke, oke. Balik ke awal.

Jadi kenapa saya bilang Myanmar itu impresif?

1. Air minum gratis ada di mana-mana

airgalon

Meskipun (kayaknya) air kerannya nggak bisa diminum langsung, tapi di trotoar, kuil, tempat-tempat umum di Myanmar, hampir selalu ada semacam gallon kecil yang isinya air buat diminum, oh dan ada gelasnya. Masalah higienitas mungkin cuma Tuhan yang tau, ya. Tapi selain itu, kita bisa minta air minum gratis dari mesin dispenser yang ada di restoran, hotel, atau di mana aja yang keliatan ada dispenser. Jadi, kalo ke Myanmar, bawalah botol minum sendiri. Lumayan hemat, dan praktis, dan ramah lingkungan. Suka! <3

2. Makan banyak bonusnya

Hah? Maksudnya kek mana itu?

Jadi kalo pesan makanan di (kebanyakan) restoran atau rumah makan di Myanmar, biasanya yang dihidangkan nggak cuma apa yang kita pesan. Tapi seringkali dibonusin ‘camilan’ yang jenisnya bisa macam-macam. Paling sering sih dapet clear soup, semacem kuah sop bening doang, pake potongan-potongan sayuran, atau kadang juga dikasih buah potong. Keliatannya nggak penting buat disebutin, sih. Tapi saya suka. Kenapa? Masalah? *iya, ini ngomong sama diri sendiri. cuekin aja*

makandimyanmar

Ngomong-ngomong, jadi vegetarian di Myanmar itu gampang. Soalnya banyak populasi biksu yang nggak makan daging. Jadi banyak banget rumah makan yang ‘memisahkan’ masakan biasa dan bersayur. Mungkin itu juga alasan kenapa clear soup itu jadi hidangan yang selalu ada.

3. Surganya teh

Masih lanjutan dari poin sebelumnya, sih. Teh tawar, biasanya green tea, di tempat makan biasanya gratis, free flow. Nah, kalo di Myanmar, kalo pesan teh (bukan teh yang gratisan maksudnya), biasanya yang muncul bukan sekadar teh, tapi semacam teh susu. Segenre sama teh tarik, atau masala chai India, atau milk tea Thailand.

inibukantehyanggratisan

Myanmar adalah negeri dengan budaya ngeteh. Teh di Myanmar di setiap pengkolan juga enak, tapi kalo nyari kopi enak di sana, ya selamat berjuang aja. Tapi gimana makhluk tukang ngopi kayak saya bisa bertahan hidup di Myanmar? Itu tak lain dan tak bukan karena teh di sana emang enak sungguhan, jadi semacam kenikmatan berbeda yang kalo dipikir-pikir kapan lagi bisa dinikmatin kalo nggak pas di sana. *iya, ini menyemangati diri sendiri*

Btw, kapan-kapan saya bahas di postingan terpisah deh perkara teh di Myanmar. Ingetin, ya? *lah, malah mintak*

4. Negeri para malaikat

Astaga, ini postingannya udah panjang. Udah bosen belom bacanya? Tapi kayaknya ini bakal jadi poin terakhir.

Masih inget kan, di postingan kemarin itu saya bilang orang baik ada di mana-mana *ya sama aja sih, orang jahat juga ada di mana-mana* Tapi di Myanmar, saya beberapa kali menjadi korban kebaikan orang yang kadang kalo dipikir-pikir, terlalu baik. Salah satu yang patut dijadikan highlight adalah saat kacamata saya ketinggalan di bus dalam perjalanan ke Shwenyaung.

Jadi bus itu tujuan akhirnya adalah Taunggyi, sekitar 20 km dari Shwenyaung. Tapi saya turun di Shwenyaung karena mau ke Inle Lake di Nyaungshwe. *iya, saya sampe sekarang masih bertanya-tanya kenapa ada Shwenyaung dan Nyaungshwe tapi nggak ada Balikpapan dan Papanbalik* *maaf-maaf jangan gigit saya*

Anyway, setelah sadar kalo kacamata saya ketinggalan, saya langsung minta tolong resepsionis hotel buat nelfon kantor busnya. Singkat cerita, akhirnya kacamata saya ketemu, dan sama agen busnya dianterin dong, all the way dari Taunggyi ke meja resepsionis hotel. Yang ibaratnya kalo itu bus jurusan Jakarta – Klaten, saya turun di Jogja, dan kacamatanya dianterin dari Klaten ke Jogja. *menjura*

Selesai? Oh belom. Jadi pas sarapan di hotel ketemu sama tamu hotel lain dan saya cerita tentang peristiwa kacamata ketinggalan dan dianterin ini. Eh ternyata, baju-baju si tamu hotel ini ketinggalan di Bagan, dan sama pihak hotel di Bagan dikirimin dong, all the way ke Nyaungshwe. *slow clap*

Tapi ya, temen saya sih nasihatin saya begini, “We know, angels are everywhere. But please, stop clumsily leaving your stuffs behind.” ROTFL.

Kalo pesan saya sih cuma dua. Pertama, tetap hati-hati dan waspada di manapun kamu berada. Kedua, kalo kangen bilang, jangan ngebatin doang. *eh, peace! :v*

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

3 Comments

Leave A Comment