Wordplay

hello there…
can you hear me?

do you know what i’m feeling?
i do miss you…

i take a cup of tea…
listening to our favourite song…
just waiting for you…

hello, are you there?
i’ve been waiting so long…
seeing you running away around me…
you’re not that far…
but i can’t reach you…
i just can’t…

could you tell me why?
could you show me how?
i’m being insane…

if you can’t find way back to me…
just tell me…
and i’ll lead you, i’ll be your guide…

i’ll help you, mon étoile
cause i just miss be me…

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Wordplay

Ehm ehm….buku ini termasuk (yaaaa lumayan) baru lah di tangan saya…

Mengangkat tema traveling ala backpacker, dengan segala suka duka dan keajaiban si penulis. Emang sukses banget bikin saya ketawa-ketawa nga jelas.

Sebenernya buku ini lebih seperti catatan perjalanan dengan gaya bercerita yang ringan dan menyegarkan. Nggak sistematis dan terunut secara baik, namun dikelompokkan berdasarkan kategori tertentu. Justru bikin enak dibaca karena nga ngebosenin.

Trinity mengumpulkan semua cerita keanehan di airport dan alat transportasi menjadi satu bab. Memunculkan cerita segar tentang kondisi airport yang beraneka ragam, mulai dari yang pake conveyor belt udah keren, sampe yang versi kuli, karena buat ngambil barang bagasi, musti nangkep koper-koper yang dilemparin begitu aja. Cerita tentang kendaraan semacam Jeep yang bisa memuat sampai 45 orang (dan juga bukan orang), yang pernah dia temui ada babi yang lagi sliding di roof Jeepnya demi menjaga keseimbangan.

Ada juga cerita tentang kekonyolan mengikuti tour packet karena ada juga destinasi backpacking yang pemerintahnya udah bikin paket-paket wisata dan kita musti ngikuti salah satunya. Lalu bertemulah Trinity dengan object wisata paling spektakuler sepanjang hidupnya. Guess what?? That is banana tree…. :D

Soal akomodasi penginapan, ada kejadian ajaib lagi. Waktu Trinity menginap di salah satu hotel berbintang 3 dengan fasilitas yang nga selayaknya.. Trus waktu ditanyain kenapa bisa begitu. Ternyata, usut punya usut “bintang” hotel itu harusnya cuma 2, dan itu hasil karena sablonannya kebanyakan nyetak bintang… Omigod….

Masih banyak banget cerita ajaib yang tertulis di buku ini. Lengkap dengan pesan-pesan moral yang terkandung di dalamnya. Tentu aja nga bakal saya tulis di sini donk. Cantik-cantik begini saya masih menghargai hasil karya orang. Kan kasian penulis kalo kalian malah bela-belain baca cerita di sini, bukannya baca buku aslinya.

===== nyang berkaitan dengan buku ini =====

Tentang buku ini keceplos pula saya ceritain ke Sidy, yang notabene juga maniak travelling. Rasanya saya nyesel sih sempat cerita ke dia, karena saya tau, dia pasti bakal minjem :P

Beneran deh, tadi pagi-pagi, Sidy sms saya begini :
“Halo Dik!
Eh,waktu g berdoa kmrn, masa g denger suara, suruh g baca naked traveller.
Pasti suara malaikat,diblg “pinjem andika,dia pasti mau pinjemin”
Hehehe”

Tuh kan, saya bilang juga apa :( sambil ngantuk lalu saya balas :
“Oh lo denger juga suara gw”

Berhasil lah berpindah tangan buku itu tadi pagi ke tangan Sidy. Lalu jam 10an dia mulai bertingkah aneh. Nelpon saya lalu membaca keras-keras skrip lucu di buku. Sumpah deh, padahal jarak saya duduk sama dia cuma 5 meter. Ketawa dia aja kedenger tanpa gagang telepon. Pake telepon benang kek biar nga makan pulsa.

Lalu malem barusan dia sms saya lagi :
Sumpah! Bukunya lucu bgt, g harus beli

Saya :
Sumpah lo gue terima. Tengkyu. Tapi sorry,gw ga punya perasaan yg sama.

Sidy :
Masa? Kan lucu bgt. Apalagi paling blkg,yg dia nginep dihotel bintang 3,ternyata bintang 3,krn pas nyablon kelebihan 1bintang.

Saya :
Iya,tapi tetep dy. Gw minta maaf bgt. Gw ga ada perasaan yg sama. Gw ga sayang elo lagi. Tolonglah elo ngerti ya.

Sidy :
Kenapa sih lo?

Saya :
Gw uda ada cowo laen. Maaf banget ya dy… Gw ga maksud nyakitin hati elo.

Lalu….kring kring…Hape saya ditelpon…hmmm Sidy….*ngapain sih nih anak*

Pas saya angkat, kena lah saya…dapet serentetan caci maki dari dia…
“Sialan lo, gue kirain elo lagi kenapa, tau nya cuma kumat gila. Udah deh, gw nga sayang lagi sama elo”

Tut…tut….tut….tut….

Dan saya pun ngakak lah…..KENA LO!!! :D

*pesan moral : NGA ADA :D
*NB : Sidy itu cewe

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Wordplay

Ada dua hal pasti yang saya suka dari buku-buku Sitta Karina, yaitu kedetailan segala sesuatu di dalamnya dan khayalannya.

Sitta menulis semua nama tokoh dengan lengkap bahkan sampe silsilah keluarga Hanafiah di buku ini, dan saya suka. Saya pecinta nama-nama indah imajinatif :P

Sitta menceritakan karakter seorang tokoh dengan jelas dan pas, dengan tingkat daya khayalnya yang saya juga sangat suka.

Cara bercerita Sitta di buku-bukunya khas dan sangat saya (gue banget gitu :D). Gabungan tempat-tempat khayalan, dengan tempat-tempat yang benar-benar ada, bikin saya kadang-kadang bertanya apakah lokasi yang sedang diceritakan itu ada, atau fiktif belaka. Seperti Coffe Shop “Portrait” yang ada di depan Universitas Richmond Indonesia (duh Sitta, asli saya pengen ke tempat ini) misalnya.

Oya, buku ini sendiri saya rasa pure fiktif lah ya, meski mungkin ada satu-dua cerita colongan yang terselip :P

Masih menceritakan tentang “the gorgeous” Hanafiah siblings, yang kali ini digawangi oleh si tomboy Bianca Safinah Hanafiah.

Menyambung dari cerita di buku sebelumnya – Putri Hujan & Ksatria Malam (yang bukunya dipinjem Ochie ga dibalik-balikin :( ) – dimana Bianca (Bi) membuat deal dengan kakaknya (Reno) dan membuat Bi harus rela dijodohkan dengan seseorang bernama Sultan. Singkat cerita, Bi ini ternyata malah jatuh cinta sama Sora (saya suka sekali nama Sora – Aozora Syahrizki) yang notabene adalah adik tiri Sultan. Nah lo, kisah cinta “terlarang” ini makin rumit, karena ternyata ibu kandung Sora masih ada hubungan sodara dengan Kei Kaminari (tokoh dari buku sebelumnya) yang juga suka sama Bi. Sementara itu ada mantan Bi – Mauro – yang merupakan rekan bisnis Sultan dan ternyata adalah orang yang “membunuh” Madri, kekasih Sora.

Cerita cinta yang dibalut intrik keluarga, persaingan bisnis, dendam masa lalu dengan segala bentuk pengungkapan yang dirangkai Sitta, berhasil bikin saya melek sampe jam 3 pagi karena penasaran sama endingnya.

After all, buku yang menyenangkan buat saya, memuaskan daya khayal saya yang suka kebablasan. Thanks to Sitta, keep writing ^_^

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Wordplay

segala santun putri bintang
yang teguh memelukku
dengan senyuman

mengajarkanku untuk tertawa
setia dalam ceria
untukmu bintangku

karena dirimu tetap ada
di sana untuk memandang
pijarku yang bagai tak ingin berhenti
sungguhku tak mau dan tak mampu
karena dalam pijarku tersimpan sinarmu
yang juga tak suka redup

lembut tatap matamu yang menguatkan
mengajakku untuk tetap tegar
dalam luka yang meraja

tak kau hirau aku yang letih
untuk membahasakan duka
dengan riangnya tawa

dengan amat sangat tetaplah memandangku
agar sinarku tak melemah
dan senyum tawaku tak pecah
karena senyumku hanya untukmu
dan kepada cinta

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Wordplay

Detik-detik dalam malam
sendiriannya aku bintang
tak sanggup berkelip sekali
inginnya seribu kali

Dirangkumnya aku dalam dia
direnggutlah seluruh cahayaku
disatukan dengan pijarnya
diajak menerangi dunia

Aku tahu inginnya kamu
menjadi seperti aku
yang bertahan dalam kelam
walau bulan tak benderang

Sebelum bintang beralih
dan kau jatuh ke dalam serpih
mauku kutahan kamu
kujadikan bagianku
agar engkau tak pergi

Biarlah waktu berlalu
menjemput pulang engkau bintangku
akan tetap kau kutunggu
saat kau beralih lagi padaku

*adapted from the origin “Song for meteor”

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr