Wordplay

Kamboja

Wangi kamboja kesukaanku. Familiar, seperti di kamar. Tapi bukan! Sebab orang-orang berbaju hitam, sisa gerimis, dan pohon kamboja sungguhan, perlahan tertangkap dari kedua kelopak mataku yang berat sekali terbuka. Dingin tanah menyergap ujung kakiku.

Ini pemakaman Ayah! Isak tangisku mendesak keluar. Sepasang tangan mengusap lembut rambutku, berusaha menenangkan. “Satia…” suara Bunda menarik sempurna ketidaksadaranku. Ranti, kakak perempuanku menyodorkan segelas air putih.

Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Aku mengenali kebanyakan dari mereka. Kecuali beberapa yang berdiri agak jauh dari kami. Salah satunya, sedang menatapku hangat dan penuh simpati. Tubuhnya tidak terlalu tegap, cenderung kurus, kulit cokelat khas hasil bakaran matahari, dan mata tajam tetapi teduh. Tipe lelaki yang kusuka.

Satia, sempat-sempatnya kamu berpikir begitu dalam keadaan seperti ini!

“Siapa mereka, Kak?” Kak Ranti melirik ke arah yang kumaksud. “Oh, dari Yayasan Damai. Yayasan pengurus jenazah ayah.”

Aku menanggapi jawaban Kak Ranti dengan gumaman. Kuambil sekeranjang bunga dari tangan Bunda, lalu kutabur perlahan di makam ayah yang masih basah. Beberapa pelayat dan kerabat berpamitan pulang, hanya menyisakan aku, Bunda, Kak Ranti, dan tiga orang dari Yayasan Damai.

Bunda dan Kak Ranti berbincang dengan dua di antaranya, yang kuketahui bernama Liga dan Pak Jamal. Mereka akan mengantar kami pulang. Tapi aku belum mau pergi. Sebab setengah dari proses pemakaman ayah tadi, kuhabiskan dalam pingsan. Kemudian dia, menawarkan diri untuk menemani dan mengantarku pulang sesudahnya.

“Pasti berat ya, buat kamu?” Dia menyapaku setelah kami tinggal berdua. Aku hanya mengangguk. Dia menyampirkan jaketnya di bahuku. “Namaku Agra. Almarhum ayahmu orang yang sangat baik. Aku mengenal beliau sudah cukup lama.”

“Kamu sudah lama kerja di Yayasan Damai? Pasti enak, ya, kalau sering menghadapi kesedihan? Jadi terbiasa.” Agra hanya tersenyum, lalu membiarkan aku larut dalam doa-doa untuk ayah.

Hampir satu jam sesudah keluargaku pergi, Agra menyentuh lenganku yang mulai beku. “Sebentar lagi Maghrib, kamu masih mau di sini?” Aku menjawabnya dengan mengizinkan dia membantuku berdiri dan memapahku keluar area pemakaman.

“Kesedihan itu tidak bisa diakrabi, Satia. Dia hanya mendekat di saat-saat tertentu. Saat yang kamu tidak bisa pilih.” Agra memulai percakapan sesaat setelah mesin mobil menyala. Kami berkendara dengan perlahan. Dia tahu, aku tahu. Segala yang lekat di antara kami, hanya akan bertahan sejauh jarak rumahku dengan pemakaman. Dia asing bagiku, aku asing baginya. Sama dengan kesedihan bagi kami masing-masing, sekuat apapun kami berusaha mengakrabinya.

“Kesedihan itu misterius, Satia. Hadir dan hilangnya semisterius cinta.” Katanya di depan pagar rumah, menggenggam tanganku. Aku tersenyum miris, menyadari aku mulai menyukai kehadirannya.

“Sampai ketemu lagi, Agra.” Dia mengecup keningku. “Sampai jumpa di pemakaman berikutnya, Satia.” Ucapnya sebelum menghilang di ujung jalan.

Sampai jumpa di pemakaman berikutnya, Satia.

…………….

Sampai jumpa di pemakaman berikutnya, Satia.

Seminggu dari pemakaman Ayah, Bunda terduduk lemah. Matanya sembab dengan tatapan kosong. Kedua tangannya gemetar memeluk badannya sendiri. Tiga meter di depanku, gundukan tanah penuh kamboja segar, dengan nisan bertuliskan RANTI NASTITI.

“Apa yang sudah kulakukan? Menyebabkan pemakaman ini ada, demi berjumpa dengan Agra? Ya, Tuhan!”

Berkelebat di ingatan, Kak Ranti yang mengiba, memohon belas kasihanku. Kugigit bibirku sampai berdarah. Matahari terik tapi badanku menggigil. Sekali lagi, seperti seminggu lalu, Agra memakaikan jaketnya ke tubuhku.

“Sampai jumpa di pemakaman berikutnya, Satia.” Katanya sambil melirik Bunda.

Lalu airmataku tumpah.

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *