Footprint

Ambon, Beach to Beach, Coast to Coast, Pantai ke Pantai

Ambon kota itu sebenernya kecil, dengan jalanan yang nggak terlalu lebar dan bangunan yang tinggi, rapat dan padat, kota ini kadang terasa ‘penuh’. Beberapa hari di Ambon kayaknya saya mulai hapal sama lorong-lorongnya. *sotoy akut*

Tapi enaknya, kalau pusing sama keruwetan kotanya *iya saya pusing soalnya orang di sini nyetirnya boros klakson banget* kabur pikniknya gampang. Pantai-pantai cantik bertebaran dalam radius 30km-an dari pusat kota. Tinggal pilih mau ke mana.

Dalam dua hari, saya pergi piknik ke empat pantai. Dua di Pulau Ambon bagian utara, dua lagi di selatan. Berhubung saya #TimAngkotMania dan di Ambon angkotnya gampang, jadilah ke mana-mana kalau enggak lagi jalan kaki, seringnya naik angkot. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Footprint

Port of Ambon

So, Ambon was on my wish list for quiet sometimes. Bagi saya, setiap tujuan perjalanan adalah perkara panggilan hati. Saya bukan tipe yang pergi ke suatu tempat karena semua orang pergi ke sana. In my case, Ambon sudah cukup lama ada di kepala, sampai akhirnya saya berhasil ‘memaksa’ kaki untuk terbang ke kota ini.

Berbekal tiket promo yang entah-bagaimana-caranya dimudahkan untuk saya dapatkan, karena waktu itu ada travel fair di Jakarta, sementara saya sedang ada di Medan, tapi akhirnya bisa terbeli juga karena bisa titip beli lewat teman.  Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Footprint

Traveler on duty
Traveler on duty

Perjalanan memang selalu memberi kejutan-kejutan terhadap rencana apapun yang kita punya. Kali ini, saya mau bercerita tentang salah satu kejutan paling absurd yang pernah saya terima.

Bulan November lalu, saya berencana pergi ke Flores masuk dari Ende dengan naik kapal Pelni dari Bima, Sumbawa. Posisi saya saat itu di Mataram, Lombok. Saya naik bus malam dari Mataram menuju Bima, untuk kemudian naik angkutan atau cidomo atau ojek ke pelabuhan Bima, mengejar kapal ke Ende.

Saya tiba di Terminal Dara, Bima, sekitar pukul 08.00 pagi, dan memutuskan untuk istirahat dulu sambil mikir-mikir naik apa enaknya ke pelabuhan. Kapal AWU yang mau saya naiki, jadwalnya baru pukul 15.00 sore. Saya masih punya waktu setengah hari.

Lagi bengong begitu, tiba-tiba ada sebuah SMS masuk ke ponsel saya, berbunyi, “Ini Mbak Akid yang mau ke Ende, ya? Saya adik sepupunya Iskandar. Saya disuruh jemput mbak di terminal dan nganter mbak ke Pelabuhan Bima. Mbak di mana?” Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Footprint

If you are traveling on a budget and arriving in Kansai Airport Osaka late at night, you have to take a note that the last train out of this airport to Osaka area departs around midnight, taxis are available but they are the more expensive option you might have. Sleeping in airport hotel is considered more convenient (for sure), but if you really have a budget constrain, sleeping in the airport area might be the best idea.

As a traveler who sometimes sleep in airport due to some different reasons, I admit that sleeping in Kansai Airport was on my top chart for its convenience and security. There might some places that comfortable enough to stay, but I would love to recommend this area below for you. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Alana Series, Footprint

Jangan berjalan, waktu! Ada selamat ulang tahun yang harus tiba tepat waktunya.
~ Dee Lestari ~

Menjelang tengah malam Waktu Indonesia Bagian Lodtunduh, Lana buru-buru menulis beberapa baris kalimat di selembar kartu pos kosong yang selalu dibawanya ke mana-mana. Dia akan berulang tahun. Lelaki yang membuatnya patah hati akan berulang tahun. Bukan mantan kekasih. Tetapi seseorang yang pernah dengan bodohnya dipercaya oleh Lana, diberi izin untuk mematahkan hatinya. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr