Pelajaran Tahu Diri

Pagi tadi saya baca sebuah tulisan pendek yang tersebar secara viral, yang konon adalah pesan dari Anies Baswedan sebelum lengser dari Menteri Pendidikan. Tulisan itu memicu saya untuk menulis sesuatu yang mungkin bisa jadi sekuel dari tulisan saya sebelumnya, “Anak-anakmu Bukanlah Anak-anakmu“.

Saya nggak akan membahas lebih detail mengenai pola asuh. Pertama, tentu saja kurang pengalaman (umn…), kedua, karena saya nggak punya cukup data buat nulis panjang. Jadi, lagi-lagi, ini adalah tulisan berdasarkan pengalaman (dan semi curhat).

anies

Saya masih memercayai bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Mengalami adalah merasakan. Perasaan adalah sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, sebaik apapun pilihan katanya.

Kembali ke tulisan Anies Baswedan tadi. Ada yang menggelitik kepala saya. Melemparkan saya ke masa kecil yang alhamdulillah bisa disebut bahagia. Saya lahir di keluarga biasa-biasa saja. Dalam konteks ini, saya cukup yakin bapak ibu saya sejauh ini bukan alien.

Di awal kehidupan saya, orang tua saya masih dalam fase membangun, berjuang membuat pondasi. Pekerjaan bapak masih di level biasa, ibu juga baru masuk PNS jadi guru SD. Beberapa tahun kemudian, saya menyebutnya fase berjaya, tapi saya sadari sekarang itu sekaligus salah satu fase paling rawan dalam hidup saya.

Usia saya masuk SD, di mana pada umumnya di usia itu anak sudah bisa menyerap dengan sempurna kondisi sosial di sekitarnya. Masa-masa anak belajar sangat banyak dari orang-orang di sekelilingnya.

‘Celakanya’, keluarga kami sedang financially kuat-kuatnya. Karir bapak di puncak. Secara materi, kami jauh sekali dari kekurangan. Jangan bayangkan keluarga Bakrie, ya. Tidak seberlebihan itu, tapi sangat cukup. We could pretty much afford whatever we want.

Tapi ‘untungnya’, saya punya orang tua yang mendidik anaknya untuk memiliki apa yang dibutuhkan, bukan apa yang diinginkan saja. Pelajaran yang saya dapat dari orang tua saya di fase itu? Pengendalian diri.

Saya nggak tahu apa jadinya sama saya beberapa tahun kemudian (saat sesudah berada di posisi puncak itu kemudian kami jatuh ke dasar jurang) kalau saya ‘digembleng’ oleh kemanjaan. Saya yakin nggak akan bisa ‘bertahan’ dalam kondisi di mana buat bayar SPP bulanan saya aja, orang tua saya susah setengah mati.

Sampai sekarang, saya merasa masih harus berterima kasih atas didikan tegas orang tua saya. Pikiran saya terbentuk memilah keperluan dan keinginan. But to make it feels oxymoronic, I’m not always succeed. Well, a lifetime lesson, I guess.

Bahkan saya mengaplikasikannya ke level seremeh-temeh urusan traveling. I could afford a business class ticket, a five star resort, and other luxury things, but I don’t think I need that. As long as I could survive with the basic, I’ll deal with that.

Tapi tidak lantas itu semua membuat saya rendah diri loh, ya. No way! My parents didn’t raise me that way. Yang mereka ajarkan adalah merendah untuk menjadi tinggi. Dihargai bukan karena apa yang terlihat kita miliki tetapi karena apa yang kita punyai dalam diri.

Nggak perlu mendongak terlalu atas. Besarkan perimeter toleransi sebesar yang dimampu. Sehingga bisa tahu diri kapan harus berbuat apa, bagaimana bersikap ketika menghadapi siapa. Nggak merasa rendah ketika berhadapan dengan yang tinggi. Ngga jadi jemawa sama yang kelihatan lebih rendah sama kita. (Btw konon di mata Tuhan semua manusia itu sama. #kemudianceramahagama)

Balik ke pengalaman, saya cukup beruntung punya jalan hidup yang naik turun cukup ekstrim. Yang tampaknya ambil peran cukup besar untuk membuat pikiran saya lebih fleksibel. Cukup beruntung pernah ada di posisi tinggi jadi sekarang nggak gampang keder dan membangun percaya diri. Dan sekaligus pernah di bawah jadi tahu rasanya dan susah tega kalau mau semena-mena.

Anyhow, saya (jadi) ingin membesarkan anak-anak saya kelak bukan dengan keberlebihan, tetapi kecukupan. Merasa cukup. Tidak kurang. Tidak lebih. Dan tahu diri.

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Leave a Reply