Falling in Love at a Coffee Shop

Coffee Shop at Arashiyama, 2014

a Coffee Shop at Arashiyama, January 2014

Perempuan itu duduk sendiri di meja paling sudut kedai kopi milikku ini. Hampir selalu begitu. Kegiatan yang dia lakukan hanya dua, jika sedang tidak menulis, dia pasti membaca. Sesekali dia duduk di depan meja barista. Mengajakku membicarakan perihal kopi atau sekadar cuaca hari ini.

Pertama kali dia datang, kurang lebih dua puluh lima hari yang lalu, dia menjelaskan pesanannya secara rinci. Yang dia pesan hanya antara dua pilihan, jika bukan kopi susu dengan komposisi susu yang sedikit sekali, dia pasti memesan kopi hitam saja. Tanpa gula.

Hari ketiga dia datang, aku sudah bisa mengingat dengan baik apa yang dia inginkan, baik jika hari sedang hujan, atau saat matahari terik. Kalau tebakan pesananku benar, dia akan tersenyum mengiyakan, lalu suasana hatinya akan membaik dan selama seharian dia tidak akan sependiam biasanya.

Pernah sekali waktu aku tanya tentang alasan dia datang ke kota ini, atau lebih tepatnya kedai kopi kecil milikku ini setiap hari. Sebab wajahnya yang asing itu, seperti tiba-tiba hadir entah dari mana. Baju yang dipakainya selalu mengingatkanku pada perempuan-perempuan metropolitan yang biasa lalu lalang di sibuknya Shibuya. Aku keheranan dengan kehadirannya yang terus menerus, setiap hari sekitar pukul dua siang, tanpa absen sama sekali.

Aku merasa, kedai kopi milikku ini tidak ada istimewanya. Kopinya biasa-biasa saja, sungguh! Aku sebagai pemilik saja tidak berniat membanggakannya sama sekali. Kedai ini berada di sudut, di ujung jalanan miring menuju kuil Kiyomizu-dera. Desain ruangannya juga tidak luar biasa menarik, menggunakan potongan-potongan batang pohon Ek yang besar sebagai kursi, dan potongan yang lebih besar lagi sebagai mejanya. Benar-benar hanya kedai kopi biasa.

Setelah kematian paman, satu-satunya kerabat yang mengurusku sejak kecil, dan kepergian mantan kekasihku yang memilih untuk melakukan perjalanan-perjalanan panjang tanpa pulang lagi ke Kyoto, sehari-hari aku cuma punya pilihan untuk tenggelam dalam kesibukan mengurus kedai ini.

Dia cuma menjawab pertanyaanku dengan senyum dan dikatakannya, “Aku hanya datang berkunjung.” Kunjungan yang menurutku terlalu panjang untuk sebuah liburan. Hampir satu bulan sudah dia di sini.

Dua minggu lalu, saat musim dingin dimulai, dia muncul di pintu dengan mantel yang agak sedikit terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang mungil. Menenteng buku baru lagi, sepertinya karangan Haruki Murakami. Dalam beberapa minggu ini, setidaknya dia sudah mengganti buku yang dibacanya empat atau lima kali.

Dia tersenyum sambil meniup-niup jemarinya yang dibungkus sarung tangan biru muda. Pipinya sedikit memerah begitu memasuki ruangan. Sepertinya di luar dingin sekali. “Konichiwa, Ken-san. Apa kabar hari ini?” Dia menyapaku dengan sedikit membungkukkan badan.

Aku membalas senyumnya, “Selain udara yang rasanya mampu membekukan otakku seketika kalau aku ke luar, aku baik saja, Ayana-san. Sama saja seperti hari-hari kemarin.” Oh ya, namanya Ayana Yamashita. Nama yang baru kuketahui pada kunjungannya yang ke lima belas.

Dia menarik kursi tinggi di depan meja tempatku bersiap mengambil gelas untuk pesanannya. Dia mengangguk merespon jawabanku, masih sambil tersenyum. Sepertinya suasana hatinya sedang baik hari ini.

“Mau minum apa?” Posisi tubuh kami berhadap-hadapan sejajar saat ini. Dengan duduk di kursi yang tinggi, posturnya yang kecil, jadi terlihat hampir seimbang dengan aku yang sedang berdiri.

“Di luar dingin sekali, Ken-san, kalau boleh, aku ingin segelas cokelat panas.”

“Oh ya, tolong tambahkan potongan marshmallow kalau kau punya.” Lanjutnya sebelum aku sempat merespon kalimat sebelumnya. Aku sedikit tertegun mendengar pesanannya. Tumben sekali, tidak seperti biasa.

“Tentu saja.” Akhirnya aku menjawab. Kuletakkan gelas yang tadi kupegang dan menggantinya dengan cangkir besar lalu mulai menyiapkan cokelat panas yang dia minta. Dia membuka sarung tangan lalu membaca halaman pertama buku yang sedang dipegangnya.

“Maaf sebelumnya jika aku lancang, ya, Ayana-san. Tapi aku hanya mau bilang, aku suka sekali senyummu.”

Perempuan itu mengangkat pandangan dari deretan huruf-huruf yang ada di depannya. Aku takut dia marah dan menganggapku kurang ajar. Pemilik kedai kopi yang berusaha menggoda pelanggannya sendiri. Tapi dia malah menutup bukunya dan tersenyum, “Oh, ya? Mengapa begitu?”

“Tidak tahu. Kau jarang tersenyum, tapi senyummu itu selalu terlihat tulus. Menenangkan sekali melihatnya. Senyummu itu membuatmu tampak bahagia.”

“Begitu, ya? Syukurlah. Terima kasih.” Jawabnya, masih sambil tersenyum. Pipinya tampak lebih merah daripada sebelumnya. Matanya menyipit dan aku baru menyadari lesung pipi yang muncul di pipi kiri dekat bibirnya. Manis sekali. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia menyibukkan diri dengan mengaduk-aduk cokelat panas yang kuhidangkan.

“Kalau kau tak keberatan, kapan-kapan aku ingin mengajakmu makan malam, Ayana-san.” Dia tidak menjawabnya sehingga suasana di antara kami seketika menjadi canggung. Masih dengan pernyataanku yang menggantung, dia larut lagi ke dalam bukunya. Aku pamit meninggalkan dia sebentar untuk merapikan gelas-gelas di rak belakang. Ketika aku kembali, Ayana-san sudah tidak ada.

Kekecewaan merambati dadaku perlahan. Setelah sekian lama aku tidak bisa merasakan perasaan apapun terhadap perempuan, sekali ini aku mulai menyukai kehadiran Ayana yang kupikir berbeda, ternyata dia sama saja. Aku merutuki perasaanku sendiri.

Kuhela napas panjang sembari membereskan cangkir bekas cokelat panas Ayana. Dia menyisipkan uang pembayaran di bawah cangkir. Saat kuangkat, aku menemukan sebuah pesan pendek yang terlihat ditulis terburu-buru.

“Terima kasih untuk cokelat panas dan keramahannya, Ken-san. Aku harus pergi dulu sekarang, supaya bisa makan malam denganmu hari ini. Tidak bisa kapan-kapan lagi, karena aku besok pagi harus kembali ke Tokyo. Telepon aku jika kau sudah selesai. Sampai jumpa malam nanti!”

Dia menuliskan nomor ponselnya di bagian bawah pesan itu. Untuk beberapa saat, aku membiarkan kertas pesan itu tetap di tanganku. Kubaca berulang-ulang, isinya tetap sama. Jantungku berdegup lebih kencang. Aku menutup kedai lebih cepat hari ini, mandi dan bersiap pergi.

Kukenakan kemeja favorit, celana panjang yang jarang-jarang kupakai, mantel terbaik, dan sepatu boots hitam. Setelah yakin penampilanku cukup menarik, dengan langkah panjang-panjang, aku pun bergegas berangkat menyusuri blok demi blok.

Di perempatan jalan, lampu merah menyala cukup lama. Tiba-tiba aku tidak ingin berjalan lurus dan menyeberang jalan. Sebagai gantinya, aku berbelok ke arah kanan. Sambil setengah berlari, aku membaca satu persatu papan nama di depan toko dan kedai yang kulewati. Aku masuk ke kedai sake pertama yang kulihat, segera duduk dan memesan.

Setelah menenggak tiga cangkir berturut-turut, baru aku merasakan degup jantung dan napasku mulai teratur lagi. Aku memutuskan untuk menghabiskan malam ini di kedai ini. Ternyata aku belum siap untuk ditinggalkan dan patah hati lagi.

 

~

Saya sedang duduk di sudut kedai kopi, mendengarkan Falling in Love at a Coffee Shop – Landon Pigg, habis membaca Haruki Murakami, merindukan Arashiyama Kyoto, dan tidak (yakin untuk) jatuh cinta.

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Leave a Reply