menjadi waras

Tidak ada sesuatu yang mutlak di dunia ini. Kebenaran atau kesalahannya.

Setidaknya itu yang saya tanamkan pada diri saya sendiri.

Belakangan, saya mengamati banyak sekali seseorang yang melakukan hal-hal untuk membela sesuatu yang dianggapnya benar. Saya tidak merujuk kepada sebuah peristiwa tertentu, tapi memaparkan ini secara umum.

Fanatisme.

Untunglah (atau justru tidak untung), saya sejauh ini belum pernah mengalaminya. Terhadap sesuatu, seseorang, atau apapun. Bahkan, percayakah kalau saya bilang saya tidak punya idola?

Saya cenderung berjalan di tengah, tidak terlalu ke kanan, ataupun ke kiri. Penting itu untuk kewarasan jiwa saya.

Sementara yang saya lihat, ada saja yang mengagungkan sesuatu hal, sampai mengabaikan yang tak baik tentangnya. Segala yang berhubungan dengan hal itu, dianggap baik, dianggap benar, mengesampingkan yang buruk tentangnya.

Lebih jauh lagi, siapapun yang tak sependapat dengannya; tak menyukai hal itu, langsung saja diletakkan di posisi yang berseberangan; dianggap musuh. Ada juga kejadian, jika ada yang mengusik sesuatu atau seseorang yang diidolakan, yang bereaksi jauh lebih dulu adalah  para pencintanya, bukan sesuatu itu sendiri.

Berpikir subyektif.

Nah ini lagi yang sering terjadi. Ketika sesuatu dilihat dari siapa yang melakukan, bukan apa yang dilakukan. Ketika seseorang yang disuka melakukan atau membuat sesuatu, segera saja dipuja-puji. Sementara jika yang tak disuka yang melakukan sesuatu yang baik, ada saja alasan untuk menyudutkannya, hanya karena ketidaksukaannya.

Waras.

Sebut saya aneh atau apapun! Saya cenderung melihat sesuatu yang beda dari yang diperbincangkan orang-orang. Sesuatu yang dielu-elukan, saya cari jeleknya. Yang disudut-sudutkan, saya cari lurusnya; baiknya. Bukan untuk apa-apa, bukan untuk ditunjukkan kepada siapa-siapa juga. Hanya demi kewarasan saya sendiri. Mengetahui keburukan maupun kebaikan dari setiap hal dan menerimanya adalah inti.

Kamu fanatik terhadap sesuatu atau seseorang? Buka mata lebih lebar. Setidaknya, jadilah obyektif dalam menilai segala hal.

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Leave a Reply