Wordplay

Coffee Shop at Arashiyama, 2014
a Coffee Shop at Arashiyama, January 2014

Perempuan itu duduk sendiri di meja paling sudut kedai kopi milikku ini. Hampir selalu begitu. Kegiatan yang dia lakukan hanya dua, jika sedang tidak menulis, dia pasti membaca. Sesekali dia duduk di depan meja barista. Mengajakku membicarakan perihal kopi atau sekadar cuaca hari ini.

Pertama kali dia datang, kurang lebih dua puluh lima hari yang lalu, dia menjelaskan pesanannya secara rinci. Yang dia pesan hanya antara dua pilihan, jika bukan kopi susu dengan komposisi susu yang sedikit sekali, dia pasti memesan kopi hitam saja. Tanpa gula. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Wordplay

Untuk: Tuan yang duduk di tepi jendela [2]

Bukan salah saya atau Anda, jika kita baru bertemu ketika Anda sedang patah hati dan saya sedang tidak percaya cinta lagi.

Yang saya selalu percaya, pertemuan kita sama dengan semua perjumpaan apapun dan siapapun di semesta, tidak terlambat, tidak juga terlampau cepat.

Hingga kelak kita tahu apakah kita sama-sama saling menjadi obat, atau bahwa kita ialah sekadar persimpangan takdir sesaat.

Hingga kelak itu tiba, terima kasih sudah membuka jendela untuk saya dan membagi sedikit luka. Terima kasih telah membagi kita saat ini, kita yang hanya mampu saling menghibur dan menyamankan diri. Menjaga diri saya dan Anda dari saling melukai.

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Wordplay

Now tell me, how do you like your coffee?

Saya akan bercerita tentang seorang perempuan yang menghidupkan seorang tokoh, lelaki, di kepalanya, selama satu dasawarsa. Lelaki dari masa remajanya. Lelaki yang tidak diizinkannya untuk tiada.

Setiap hari, dia terbangun pagi, menjerang air untuk kopi, lalu duduk di tepi jendela dan mengingat cara lelaki itu menyeduh. Mengingat setiap percakapan mereka tentang bagaimana lelaki itu menikmati kopi, yang pada suatu hari dilanjutkan dengan pertanyaan kepada perempuan itu, “So, how do you like your coffee?” Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Wordplay

Rindu ialah tentang kau yang lebih memilih diselimut kabut dan aku yang menyandarkan keluh kepada angin.

Tiba-tiba kau begitu diam sementara aku tahu-tahu sudah begitu jauh.

Lalu, rindu juga tentang sekadar lambaian tangan yang tidak sempat dan janji pertemuan yang belum sempat dibuat.

Jika ada kelak, aku mau datang saat kau sudah lelap, memberimu satu pelukan yang esok paginya menjelma kekosongan yang kau rindukan.

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr