Selamat Ulang Tahun, Lelaki Yang Mematahkan Hati.

Jangan berjalan, waktu! Ada selamat ulang tahun yang harus tiba tepat waktunya.
~ Dee Lestari ~

Menjelang tengah malam Waktu Indonesia Bagian Lodtunduh, Lana buru-buru menulis beberapa baris kalimat di selembar kartu pos kosong yang selalu dibawanya ke mana-mana. Dia akan berulang tahun. Lelaki yang membuatnya patah hati akan berulang tahun. Bukan mantan kekasih. Tetapi seseorang yang pernah dengan bodohnya dipercaya oleh Lana, diberi izin untuk mematahkan hatinya. (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Malioboro, Suatu Malam

Pulang ke kotamu ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat. ~ KLa Project

Kereta merapat ke Stasiun Lempuyangan pukul delapan malam. Lana tiba dengan kesendiriannya. Tidak ada seorang pun yang menunggunya datang. Tidak ada rindu. Tidak ada pelukan. Tidak pulang. (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Tentang Perempuan dan Kopi

Saya mulai menghafal kebiasaannya.

Sebelum matahari terbit…

Dia terjaga dari mimpi yang biasanya langsung dia lupakan saat itu juga. Menyapa dirinya sendiri dari cermin sambil merapikan rambutnya yang berantakan sekadarnya pakai tangan. Berjalan ke dapurnya yang mungil untuk menjerang air dan menyeduh satu setengah sendok kopi hitam, tanpa gula. Membawanya ke depan jendela tempat dia menunggu matahari terbit. Lalu diam mendengarkan musik akustik yang memenuhi seluruh ruangan. Dia suka uring-uringan kalau salah satu dari rangkaian kebiasaannya itu terlewatkan. (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Amsterdam, 3.10 pagi.

Minggu pagi. Langit masih muram sebab hujan belum menunjukkan tanda akan berhenti dari semalam. Lilac mengerlingkan matanya ke arah dinding bertekstur bata merah di sisi kanannya. Baru pukul sembilan.

Diaduknya perlahan secangkir hangat teh melati yang wanginya bersaing dengan roti panggang untuk menguasai ruangan. Kemudian ditariknya satu dari dua kursi yang semula berhadapan hanya terpisah meja makan di dapur kecil miliknya, tepat ke depan jendela.

Lilac sangat suka duduk berlama-lama menatapi bulir-bulir hujan membasahi kaca yang di depannya terdapat sederet pot-pot bunga aneka warna yang ditanamnya. Saat hujan deras sampai dingin membuat kaca-kaca jendelanya berembun, Lilac mengambil sumpit dari ujung meja, dan menulis sebaris pendek puisi di situ. Puisi yang selalu hanya untuk satu orang. (more…)

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

Catatan Patah Tulang

Seradikal apa hidupmu pernah berubah?

Pernahkah kamu merasa semua sudah lengkap tapi tidak tersusun tepat pada tempatnya?

Saya pernah, dan ini sebuah catatan hidup saya.

Pada akhirnya, pada sebuah titik, saya memutuskan untuk mengubah apa yang telah ada. Sebelum saya merasa terjebak di sana, selamanya. Mudah? Sama sekali tidak.

Kehilangan yang terlalu banyak untuk saya tanggung dalam waktu yang bersamaan. Hubungan enam tahun saya, teman-teman, dan hal yang mungkin selama sekian lama berani saya sebut sebagai kenyamanan.

Seperti layaknya patah tulang yang coba diluruskan oleh ahli pemijatan. Saya pernah menjerit sekerasnya. Menangis sampai air mata habis sampai pada titik yang saya sadari sebagai titik normal kaki saya. Pada titik saya mulai bisa berjalan dengan baik, tanpa merasai kesakitan dari apa yang telah saya lepaskan.

Move on? Entahlah. Tapi saya mulai merasa baik-baik saja.

~ Juli, 2012

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr

1 10 11 12 13 14 40