Wordplay

Rindu ialah tentang kau yang lebih memilih diselimut kabut dan aku yang menyandarkan keluh kepada angin.

Tiba-tiba kau begitu diam sementara aku tahu-tahu sudah begitu jauh.

Lalu, rindu juga tentang sekadar lambaian tangan yang tidak sempat dan janji pertemuan yang belum sempat dibuat.

Jika ada kelak, aku mau datang saat kau sudah lelap, memberimu satu pelukan yang esok paginya menjelma kekosongan yang kau rindukan.

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble

This post should be the very first ‘proper’ book review in this blog, or that’s what I think by far.

The first five books of Fever Series

Saya dipertemukan dengan buku ini di sebuah sale yang diadakan oleh Periplus pada suatu hari di tahun 2013. Pada awalnya, saya tidak memberi perhatian lebih karena cover yang menurut saya biasa saja. Kayak masnya, saat pertama kami jumpa.

Iya, saya makhluk yang kemampuan curhat visualnya lebih unggul dibanding kemampuan verbal dan vokal, sehingga seringkali saya judging book by its cover. Maaf-maaf aja nih, ya.

Tapi karena saat itu diskonnya lagi besar-besaran, saya sedang mood buat baca banyak, dan hasil ngecek Goodreads ternyata rating -nya di atas 4 out of 5, akhirnya saya angkut lah lima buku pertama The Fever Series sekaligus. Darkfever, Bloodfever, Faefever, Dreamfever, dan Shadowfever.

Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Wordplay

Kepada Tuan yang duduk di tepi jendela.

Kepada Tuan yang duduk di tepi jendela.
Kepada Tuan yang duduk di tepi jendela.

Apa saya pernah bercerita kepada Anda tentang semesta yang menata kebetulan demi kebetulan di hidup saya menjadi serangkaian panjang kesengajaan?

Ah! Sepertinya belum, ya, Tuan?

Bagaimana mungkin pernah, kalau waktu-waktu temu lebih banyak kita habiskan dalam percakapan-percakapan diam? Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Mumble

Waktu menyusuri jejak di balik secangkir kopi di Lampung kemarin, saya sempat berbincang panjang dengan salah seorang petani tentang kualitas kopi. Kata si bapak, konon kopi hasil panen pertama setiap tahunnya, rasanya lebih enak. Tapi karena saya main ke sana itu pas bukan musim panen, jadi saya tidak bisa mencobanya.

Tapi dasar rezeki anak solehah, beberapa waktu setelahnya, saya ditawarin buat mencicipi Nescafé Classic First Harvest. Seperti namanya “First Harvest”, Nescafé Classic yang ini berbeda dengan Nescafé Classic yang biasanya beredar luas di pasaran. Nescafé Classic First Harvest diproses dari biji kopi pilihan hasil panen pertama. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr
Footprint, Seriously Serious Thoughts

Setelah episode menghidupkan hidup yang saya ceritakan sebelumnya dan serangkaian perjalanan-perjalanan yang saya lewati, pada akhirnya saya tiba di titik berhenti, untuk sementara.

Maka, di sinilah saya sekarang. Di kota yang seringkali dipanggil pulang oleh sebagian orang. Kota yang menjadi rumah bagi banyak rindu. Jogjakarta. Continue Reading

Share this:
Facebook Twitter Email Pinterest Tumblr